Minyak Lanjut Turun, Jeda Konflik Redam Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (28/7) setelah jeda pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran bertahan. Kondisi tersebut meningkatkan harapan deeskalasi konflik Timur Tengah yang sebelumnya mengganggu pasokan energi global.
Minyak Brent untuk pengiriman September turun 3,71% menjadi US$85,08 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate atau WTI merosot sekitar 3% ke level US$80,11 per barel.
Iran membantah telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari dengan Amerika Serikat, tetapi aktivitas serangan untuk sementara mereda. Pasar menilai jeda tersebut mengurangi kemungkinan serangan besar terhadap fasilitas energi dan infrastruktur sipil dalam waktu dekat.
Meski demikian, risiko pasokan masih tinggi karena perselisihan mengenai Selat Hormuz berpotensi memicu kembali konflik. Goldman Sachs memperkirakan Brent dapat turun menuju US$80 per barel pada akhir tahun apabila jalur tersebut kembali dibuka sepenuhnya, tetapi gangguan di Laut Merah dan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi tetap menjadi risiko kenaikan harga.
Dampak Market
Penurunan harga minyak dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan mengurangi peluang kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini berpotensi mendukung pasar saham dan emas, tetapi membebani saham perusahaan energi. Minyak dapat kembali melonjak apabila konflik meluas atau jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz kembali terganggu.(yds)
Sumber: Newsmaker.id