Konflik AS-Iran Mereda, Minyak Jatuh dan Pasar Mulai Lega
Harga minyak turun tajam pada perdagangan Senin (27/07) setelah Amerika Serikat dan Iran menahan serangan lanjutan. Minyak Brent sempat anjlok 7,4% hingga berada di bawah US$90 per barel sebelum memangkas sebagian penurunannya.
Jeda konflik meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Amerika Serikat menghentikan serangan setelah 13 hari operasi, sementara Iran menyatakan telah menangguhkan serangan balasannya.
Penurunan harga minyak ikut meredakan kekhawatiran inflasi dan mendorong harga obligasi naik. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun empat basis poin menjadi 4,63%, sedangkan dolar melemah terhadap seluruh mata uang utama kelompok G-10.
Sentimen pasar saham turut membaik. Kontrak berjangka Nasdaq 100 naik 1,2%, S&P 500 menguat 0,7%, dan saham Asia naik tipis 0,3%, meskipun investor masih menantikan laporan kinerja perusahaan teknologi besar.
Emas melonjak lebih dari 1% hingga mendekati US$4.100 per troy ounce, sementara yen menguat ke sekitar 163,55 per dolar. Namun, rupiah, obligasi, dan saham Indonesia tertekan setelah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri secara mendadak.
Pasar selanjutnya akan mencermati keputusan suku bunga The Fed, Bank of England, dan Bank of Japan. Minyak berpotensi tetap melemah jika jeda konflik bertahan, sedangkan saham dan obligasi dapat menguat. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena belum ada bukti bahwa jalur pelayaran di kawasan telah kembali normal.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id