Minyak Reli 30%, Risiko Pasokan Meledak
Harga minyak melanjutkan penguatannya pada Rabu (22/7) setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama meredam peluang pembicaraan damai dalam waktu dekat. Risiko gangguan pasokan global terus meningkat, membuat pasar semakin khawatir terhadap stabilitas arus energi.
Brent kontrak September naik 3,1% ke level US$93,81 per barel, mendekati US$94. Sementara itu, WTI kontrak September menguat 3% ke US$87,26 per barel. Reli minyak bulan ini kini mendekati 30% seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Iran menyatakan saat ini tidak ada negosiasi langsung, dan hanya pertukaran pesan yang masih mungkin dilakukan. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan akan merespons jika kelompok Houthi yang didukung Iran mengganggu pelayaran di Laut Merah.
Militer AS juga melanjutkan serangan hari ke-11 terhadap Iran untuk melemahkan kemampuan Teheran dalam mengancam kapal komersial di Selat Hormuz. Meski jalur tersebut masih terbuka, tiga tanker dilaporkan diserang dalam beberapa hari terakhir di sekitar Hormuz dekat Oman.
Ancaman Houthi terhadap jalur pelayaran Arab Saudi mulai berdampak. Beberapa tanker terlihat berhenti sementara saat mendekati perairan Yaman, sementara kapal lain yang membawa minyak Saudi berbalik arah menuju Terusan Suez. Lalu lintas kapal komersial di sekitar Hormuz juga turun ke level terendah dalam tiga pekan.
Tekanan pasokan tidak hanya datang dari Timur Tengah. Pasar juga mencermati serangan terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium di pesisir Laut Hitam Rusia, jalur penting untuk pengiriman sebagian besar minyak mentah Kazakhstan. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan global.
Dampaknya ke market, harga minyak berpotensi tetap kuat selama risiko Hormuz, Laut Merah, dan Laut Hitam belum mereda. Struktur backwardation Brent dan WTI yang melebar lebih dari US$3 per barel menunjukkan pasar mulai menghargai risiko pasokan jangka pendek. Jika konflik berlanjut dan stok komersial OECD menipis, Brent berpeluang menembus US$100 per barel, meski koreksi teknikal tetap bisa muncul karena kenaikan sudah sangat agresif. (arl)
Sumber : Newsmaker.id