Minyak Melaju, Hormuz Makin Terancam
Harga minyak menuju kenaikan mingguan terbesar sejak April, seiring meningkatnya tanda-tanda eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan arus pasokan melalui Selat Hormuz.
Brent naik ke atas US$86 per barel dan berada di jalur penguatan sekitar 13% dalam sepekan. Peningkatan ini terjadi setelah Iran menyerang fasilitas air dan pembangkit listrik di Kuwait, menyebabkan sejumlah unit pembangkit mengalami kerusakan.
Serangan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan kembali gelombang serangan ke Iran, termasuk ke sejumlah target pertahanan. Iran juga membalas dengan menargetkan pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain, sementara Qatar menyatakan berhasil mencegat rudal yang diarahkan ke negaranya.
Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima arus minyak global. Jika aktivitas pelayaran terganggu lebih jauh, pasar energi berisiko menghadapi tekanan pasokan yang lebih besar.
Tekanan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga pada produk makanan seperti solar dan bensin. Pasar bahan bakar di AS dan Eropa menunjukkan kondisi yang semakin ketat, terutama setelah ekspor Rusia ikut menurun akibat serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan larangan ekspor solar dari Moskow.
Dampaknya terhadap pasar, harga minyak berpotensi tetap tinggi selama risiko keamanan di Hormuz belum mereda. Peningkatan energi dapat meningkatkan tekanan inflasi global, memperberat beban konsumen, dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga. (asd)
Sumber: Newsmaker.id