Minyak Tertahan, Pasar Cermati Eskalasi Hormuz
Harga minyak bergerak melemah tipis pada perdagangan Kamis (16/7) setelah mencatat kenaikan selama tiga sesi beruntun. Investor mulai menimbang dampak operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dan potensi gangguan pelayaran yang lebih lama di Selat Hormuz.
Brent untuk pengiriman September turun 0,4% ke level US$84,58 per barel, sementara WTI melemah 0,1% ke level US$79,56 per barel. Meski terkoreksi, kedua harga acuan masih berada dekat level tertinggi satu bulan setelah sempat melonjak hampir 10% pada awal pekan.
Fokus pasar masih tertuju pada keamanan Selat Hormuz, jalur penting yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG global. Ketegangan meningkat setelah AS kembali menyerang target militer Iran yang disebut terkait dengan serangan terhadap kapal komersial di kawasan Teluk.
Washington menyebut operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam lalu lintas maritim. Sementara itu, Teheran menyebut konflik dengan AS sebagai “perang eksistensial” dan memperingatkan bahwa ekspor energi kawasan bisa kembali terganggu jika serangan terus berlanjut.
Dari sisi pasokan, data Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 1,7 juta barel dalam pekan yang berakhir 10 Juli. Stok bensin juga turun 1,5 juta barel karena permintaan musim panas masih kuat, meski stok distilat naik 4,6 juta barel.
Dampaknya ke market, koreksi harga minyak belum berarti risiko mereda. Selama konflik AS-Iran masih berlanjut dan jalur Hormuz belum benar-benar aman, harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi. Jika gangguan ekspor energi membesar, tekanan inflasi global bisa kembali naik dan membuat pasar lebih hati-hati terhadap arah suku bunga bank sentral. (arl)
Sumber: Newsmaker.id