Hormuz Diserang, Minyak Makin Liar
Harga minyak kembali melonjak tajam pada Selasa (14/07) setelah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz semakin meningkat. Brent menembus US$87 per barel untuk pertama kalinya dalam satu bulan, seiring runtuhnya gencatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Lonjakan terjadi setelah Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tankernya diserang saat melintasi jalur pelayaran selatan Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut sebelumnya digunakan untuk mengangkut minyak dari UAE dalam beberapa pekan terakhir, sehingga insiden ini dinilai sebagai serangan langsung terhadap salah satu arus minyak penting di kawasan tersebut.
Situasi makin rumit karena sejumlah kapal mulai mematikan sinyal pelacakan atau berlayar “gelap” demi menghindari risiko serangan. Hal ini membuat pasar semakin sulit memantau arus pasokan minyak yang sebenarnya melalui Selat Hormuz, jalur energi paling penting di dunia.
Kenaikan minyak juga dipicu oleh langkah Amerika Serikat yang kembali memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Iran. AS juga disebut mempertimbangkan biaya tambahan bagi kapal yang melintasi Hormuz dengan perlindungan militer Amerika. Di saat yang sama, Washington kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran.
Secara keseluruhan, harga minyak telah naik hampir 14% sepanjang pekan ini. Pasar semakin khawatir karena stok minyak masih rendah, sementara permintaan bahan bakar tetap kuat. Jika Iran membalas blokade AS dengan mengganggu ekspor dari negara Teluk lainnya, tekanan harga minyak bisa bertahan lebih lama.
Dampaknya ke market, lonjakan minyak berpotensi kembali menyalakan kekhawatiran inflasi global. Jika harga energi terus tinggi, bank sentral bisa mempertahankan suku bunga ketat lebih lama. Kondisi ini dapat mendukung sektor energi, tetapi menekan saham, emas, crypto, dan aset berisiko yang sensitif terhadap suku bunga. (arl)
Sumber: Newsmaker.id