Emas Hati-hati Jelang CPI
Harga emas mulai stabil setelah mengalami tekanan selama dua hari berturut-turut. Emas bergerak di sekitar US$4.020 per troy ounce setelah sempat turun 2,9% pada Senin. Tekanan utama datang dari memanasnya konflik Timur Tengah dan meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap Iran dan menuntut penggantian biaya sebesar 20% atas kargo lain yang melintas di Selat Hormuz. Di saat yang sama, Amerika Serikat dan Iran masih saling melancarkan serangan, sehingga pasar energi kembali bergerak panas.
Lonjakan harga minyak dan gas alam Eropa membuat investor khawatir inflasi bisa kembali naik. Jika harga energi terus tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkan suku bunga lagi. Kondisi ini menjadi beban bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Tekanan bertambah setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan suku bunga mungkin perlu dinaikkan dalam waktu dekat jika inflasi inti masih menunjukkan tekanan harga yang luas. Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini bahkan naik menjadi sekitar 50%, dari sebelumnya kurang dari 10%.
Pasar kini menunggu dua agenda penting, yaitu data inflasi konsumen AS bulan Juni dan testimoni pertama Kevin Warsh di hadapan Kongres sebagai Ketua The Fed. Jika data inflasi lebih panas atau Warsh terdengar hawkish, emas bisa kembali tertekan. Namun, jika inflasi mulai mereda, emas berpeluang bertahan di atas area US$4.000.
Pada perdagangan siang di Singapura, emas spot pulih 0,5% ke US$4.021,82 per troy ounce setelah sempat melemah di awal sesi. Perak naik tipis ke US$57,70 per ounce, sementara platinum dan palladium ikut menguat. Meski tekanan makro masih besar, sebagian analis menilai area US$4.000 mulai menjadi lantai baru bagi emas, terutama jika investor Asia kembali melakukan akumulasi.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id