Hormuz Jadi Pemicu Minyak, Melesat Tajam!
Harga minyak kembali melesat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaktifkan kembali blokade laut terhadap kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz. Brent naik ke atas US$85 per barel untuk pertama kalinya dalam satu bulan, sementara WTI bergerak di atas US$80 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Brent sempat melonjak hampir 10% pada perdagangan Senin. Pada perdagangan Asia, Brent untuk kontrak September naik 2,7% menjadi US$85,57 per barel, sementara WTI untuk kontrak Agustus menguat 2,8% menjadi US$80,31 per barel. Lonjakan ini menunjukkan pasar kembali memasukkan risiko perang ke dalam harga minyak.
Trump juga menuntut penggantian biaya sebesar 20% atas seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Untuk kapal supertanker penuh berisi minyak, pungutan ini diperkirakan bisa mencapai sekitar US$30 juta. Trump mengatakan negara-negara yang mendapat perlindungan AS di jalur tersebut, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait, harus ikut membayar biaya keamanan.
Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut, dan operasi tersebut disebut masih bisa berlangsung beberapa hari lagi. Joint Maritime Information Center menyatakan CENTCOM akan mulai memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran pada Selasa sore waktu New York.
Iran merespons dengan keras. Militer Iran melaporkan menyerang aset AS di Kuwait menggunakan drone dan menargetkan sebuah kapal yang disebut sebagai “kapal musuh” dengan rudal jelajah. Uni Emirat Arab juga melaporkan dua kapal tankernya menyerang wilayah Oman saat melewati jalur selatan Selat Hormuz. Di sisi diplomasi, Iran menyebut perjanjian dengan Washington telah memasuki fase krisis dan menegaskan tidak akan mematuhi komitmen selama AS dianggap melanggar perjanjian.
Dampaknya ke pasar, harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi selama blokade dan serangan di sekitar Hormuz belum mereda. Jika pasokan dari Teluk Persia terganggu lebih lama, tekanan inflasi global bisa meningkat dan membuat kebijakan bank sentral lebih sulit diatur. Namun, jika jalur Hormuz kembali terbuka normal, harga minyak berisiko turun cepat karena sebagian premi perang bisa langsung hilang dari pasar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id