AS-Iran Lanjutkan Pembicaraan, Harga Minyak Bergerak Stabil
Harga minyak bergerak stabil setelah perundingan Amerika Serikat dan Iran, meskipun pertempuran terbaru sempat menekan gencatan senjata dan menghambat lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pasar tetap berhati-hati terhadap risiko pasokan energi global.
Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran dapat menggagalkan upaya membangun kembali persediaan minyak global yang menipis pada akhir tahun ini. Peringatan tersebut menambah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan bisa bertahan lebih lama jika ketegangan terus meningkat.
Minyak Brent dipasarkan di atas US$76 per barel dan masih menuju kenaikan mingguan sekitar 6%, meskipun sempat terkoreksi pada hari Kamis. Sementara itu, West Texas Intermediate bergerak relatif stabil di sekitar US$72 per barel.
Pembicaraan teknis antara Washington dan Teheran dilaporkan masih berlanjut, menurut seorang pejabat AS. Namun, status gencatan senjata sebelumnya masih belum jelas setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan telah berakhir dan pasukan AS menyerang sejumlah target di Iran selama dua hari.
Di sisi lain, arus energi kawasan Teluk menunjukkan tanda ketahanan. Uni Emirat Arab menaikkan produksi minyak mentah ke tingkat tertinggi sepanjang masa pada bulan lalu. Langkah ini menjadi bukti bahwa Abu Dhabi merespons gangguan akibat perang dengan lebih agresif dibandingkan sejumlah negara Teluk Persia lainnya.
Dari sisi jalan pasar, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil selama lalu lintas tanker di Selat Hormuz belum pulih. Data pelacakan menunjukkan aktivitas kapal di Hormuz masih tipis pada hari Jumat setelah hampir berhenti pada hari Kamis. Perubahan struktur pasar Brent dari contango ke backwardation juga memberi sinyal bahwa pasar mulai melihat risiko pasokan yang lebih ketat, sehingga investor akan mencermati produksi dan alokasi penjualan dari produsen Teluk seperti Arab Saudi. (yds)
Sumber: Newsmaker.id