• Fri, Jul 17, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

10 July 2026 17:10  |

Minyak Stabil, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran

Harga minyak bergerak stabil setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih melanjutkan pembicaraan, meski ketegangan militer kembali meningkat. Situasi tersebut membuat status gencatan senjata kedua negara masih tidak jelas dan sempat mengganggu lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Minyak Brent diperdagangkan di dekat US$76 per barel dan masih menuju kenaikan mingguan lebih dari 5%, meski sempat terkoreksi pada perdagangan Kamis. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI bergerak terbatas di bawah US$72 per barel.

Kedua pihak disebut masih melanjutkan diskusi teknis, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan gencatan senjata telah berakhir. Ketegangan meningkat setelah pasukan AS menyerang sejumlah target di Iran selama dua hari, yang kemudian membuat pelaku pasar kembali mencermati risiko pasokan energi dari kawasan Teluk.

Badan Energi Internasional atau IEA memperingatkan bahwa permusuhan baru antara AS dan Iran berisiko menghambat upaya pemulihan persediaan minyak global yang menipis pada akhir tahun ini. Meski demikian, pasar dinilai masih melihat eskalasi terbaru sebagai tantangan terhadap gencatan senjata, bukan sebagai kegagalan total perundingan.

Di sisi pasokan, aliran energi kawasan Teluk masih menunjukkan ketahanan. Uni Emirat Arab bahkan meningkatkan produksi minyak mentah ke level tertinggi sepanjang sejarah pada bulan lalu. Namun, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terlihat tipis setelah sempat hampir terhenti pada Kamis, sehingga trader tetap memantau produksi dan penjualan dari produsen Teluk Persia, termasuk Arab Saudi.

Dampaknya ke Market:

Untuk harga minyak, sentimen utama masih datang dari Selat Hormuz dan arah negosiasi AS-Iran. Jika pembicaraan berlanjut positif, harga minyak bisa tertahan atau terkoreksi. Namun, jika serangan kembali meningkat dan lalu lintas tanker makin terganggu, Brent berpeluang kembali menguat.

Untuk inflasi global, minyak yang masih bertahan tinggi dapat memperpanjang kekhawatiran inflasi berbasis energi. Kondisi ini bisa membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Untuk dolar AS dan emas, kenaikan minyak dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, sehingga mendukung dolar. Sebaliknya, emas bisa tertekan jika pasar lebih fokus pada inflasi dan suku bunga dibandingkan fungsi emas sebagai aset aman.

Untuk pasar Asia termasuk Indonesia, harga minyak yang tinggi berpotensi menekan sentimen karena dapat meningkatkan biaya impor energi dan beban subsidi. Namun, bagi saham energi dan komoditas, sentimen ini bisa menjadi katalis positif dalam jangka pendek.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai