Minyak Melemah, Tapi Masih Cuan Mingguan
Harga minyak melemah tipis pada perdagangan awal Jumat (10/7), tetapi masih berada di jalur penguatan mingguan. Pergerakan ini terjadi ketika pasar terus mencermati ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang masih saling melancarkan serangan, sehingga risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama.
Brent turun 6 sen atau 0,08% ke level US$76,24 per barel pada pukul 01.25 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI melemah 4 sen atau 0,06% ke US$72,04 per barel. Meski terkoreksi tipis, Brent masih mengarah pada kenaikan sekitar 6% sepanjang pekan ini, sedangkan WTI berpotensi mencatat penguatan sekitar 5%.
Tekanan terhadap harga minyak muncul karena pasar mulai khawatir bahwa inflasi yang kembali meningkat dapat menekan permintaan energi. Jika inflasi makin tinggi, daya beli dan aktivitas ekonomi berisiko melambat, sehingga kebutuhan minyak juga bisa ikut melemah. Kekhawatiran ini membuat investor tidak sepenuhnya agresif membeli minyak meski risiko geopolitik masih besar.
Dari sisi konflik, pasukan Iran melancarkan serangan ke infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk setelah Washington menyerang wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Media Iran juga melaporkan beberapa ledakan di Iran selatan, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit nuklir negara tersebut. Situasi ini semakin menekan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.
Namun, pasar mendapat sedikit ketenangan karena pemerintahan Presiden Donald Trump sejauh ini menghindari serangan langsung ke infrastruktur energi Iran. Trump juga menyatakan tidak memperkirakan perang akan kembali menjadi konflik skala penuh. Meski begitu, pembukaan penuh Selat Hormuz masih tertunda, padahal jalur ini sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setiap hari. Karena itu, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil selama risiko pasokan dari kawasan tersebut belum mereda.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id