Minyak Melonjak 2% Lebih, Hormuz Kembali Memanas
Harga minyak naik pada perdagangan Selasa (7/7) setelah Iran dilaporkan menyerang sebuah tanker asal Qatar di dekat Selat Hormuz. Insiden ini kembali menegaskan rapuhnya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah upaya kedua negara mencari penyelesaian permanen atas konflik.
Brent crude, yang menjadi patokan harga minyak global, naik 2,4% ke level US$73,75 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat 2,3% ke level US$70,13 per barel. Kenaikan ini menunjukkan pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Serangan tersebut menargetkan tanker gas alam cair asal Qatar, Al-Rekayyat, saat melintas di dekat Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Dr. Majed al Ansari, meminta Iran segera menghentikan seluruh tindakan yang dapat mengganggu keamanan kawasan dan keselamatan navigasi maritim internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Karena itu, setiap gangguan di kawasan ini dapat langsung memicu kekhawatiran pasokan energi global. Sebelumnya, UK Maritime Trade Operations juga melaporkan sebuah tanker terkena proyektil tak dikenal sekitar 8 mil laut dari Limah, Oman.
Ketegangan makin meningkat setelah UKMTO kembali melaporkan insiden lain pada Selasa, ketika tanker yang melintas di Hormuz diduga terkena proyektil tak dikenal dan mengalami kerusakan struktural. Jika serangan berlanjut, harga minyak berpotensi tetap mendapat dorongan naik, sementara pasar global akan semakin waspada terhadap risiko inflasi energi dan dampaknya terhadap kebijakan suku bunga.(yds)
Sumber: Newsmaker.id