Harga Minyak Naik Tipis, Serangan Kapal Kembali Sorot Risiko Hormuz
Harga minyak bergerak naik tipis pada perdagangan Selasa (7/07), setelah muncul serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz. Insiden ini kembali menyoroti risiko keamanan di jalur pelayaran penting yang menjadi penghubung utama produsen minyak Teluk Persia dengan pasar global.
Minyak Brent diperdagangkan mendekati US$73 per barel. Kenaikan terjadi setelah kapal pengangkut gas alam cair, Al Rekayyat, terkena proyektil di dekat pantai Oman saat keluar dari jalur tersebut. Selain itu, sebuah kapal tanker minyak Saudi juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Kelompok perdagangan pelayaran terbesar dunia menyebut lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz berpotensi menurun setelah insiden terbaru. Meski begitu, masih ada pemilik kapal yang bersedia mengambil risiko untuk melintasi jalur tersebut. Pada Selasa, sejumlah kapal, termasuk tanker minyak, terlihat bergerak melalui rute di sepanjang pantai Oman
Selat Hormuz sebelumnya sempat hampir tertutup total akibat perang AS-Iran, sebelum kemudian mulai dibuka kembali secara bertahap. Namun, meskipun arus lalu lintas mulai pulih, pergerakan kapal masih berada di bawah level sebelum konflik.
Harga minyak sempat turun sekitar 30% pada kuartal II setelah Washington dan Teheran menyepakati perjanjian damai sementara. Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Bahkan, premi risiko perang pada Brent sudah terhapus, sementara sejumlah bank besar seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley mulai memperingatkan potensi kembalinya kelebihan pasokan.
Serangan terbaru terhadap kapal di Teluk Persia menunjukkan proses normalisasi masih jauh dari selesai. ING menilai respons terbatas dari AS dapat memberi dukungan jangka pendek bagi harga minyak. Namun, karena sentimen pasar masih cenderung bearish dan pasar fisik melemah, potensi kenaikan harga minyak kemungkinan tetap terbatas. (yds)*
Sumber: Newsmaker.id