IEA Lepas Cadangan Terbesar dalam Sejarah, Pasokan Minyak Global Terguncang di Tengah Konflik Iran–AS
Pasokan minyak global menghadapi tekanan besar di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Laporan terbaru dari International Energy Agency menunjukkan bahwa gangguan pasokan telah mencapai sekitar 10 hingga 13 juta barel per hari, atau setara dengan hampir 12 persen dari total pasokan minyak dunia. Angka ini menjadikan krisis saat ini sebagai salah satu gangguan terbesar sejak krisis energi global pada era 1970-an.
Sebelum konflik memanas, pasar minyak global sebenarnya berada dalam kondisi surplus dengan kelebihan pasokan sekitar 2,46 juta barel per hari. Namun, situasi tersebut berubah drastis setelah konflik meningkat, di mana surplus menyusut tajam hingga hanya sekitar 410 ribu barel per hari. Kondisi ini menempatkan pasar pada ambang defisit pasokan, yang meningkatkan sensitivitas harga terhadap setiap gangguan tambahan.
Sebagai respons terhadap tekanan tersebut, International Energy Agency bersama negara-negara anggotanya mengambil langkah luar biasa dengan melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global. Ini merupakan pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut, melibatkan total 32 negara anggota dalam upaya kolektif untuk menstabilkan pasar energi global.
Sejumlah negara utama turut berkontribusi signifikan dalam pelepasan cadangan ini. Amerika Serikat menjadi kontributor terbesar, diikuti oleh Jepang dengan sekitar 80 juta barel, Korea Selatan sekitar 22 juta barel, serta Jerman yang menyumbang hampir 20 juta barel. Negara-negara Eropa dan Asia lainnya juga ikut serta dalam distribusi cadangan, menunjukkan skala respons global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Meski demikian, pelepasan cadangan tersebut dinilai belum cukup untuk sepenuhnya menutup kekurangan pasokan. Dengan gangguan pasokan yang bisa mencapai lebih dari 10 juta barel per hari, total 400 juta barel cadangan hanya berfungsi sebagai penahan sementara untuk meredam lonjakan harga, bukan sebagai solusi jangka panjang terhadap krisis pasokan yang sedang berlangsung.
Dari sisi harga, kondisi ini menciptakan tekanan naik yang signifikan. Dengan asumsi defisit bersih sekitar 5 hingga 7 juta barel per hari setelah intervensi cadangan, harga minyak berpotensi bergerak di kisaran USD 105 hingga USD 120 per barel dalam jangka pendek. Kenaikan harga minyak ini secara langsung mendorong inflasi global, terutama melalui peningkatan biaya energi dan transportasi.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id