Brent Tembus US$103, Risiko Hormuz dan Iran Angkat Harga Minyak
Harga minyak menguat pada Kamis (23/04), dengan Brent bertahan di atas US$103 per barel seiring pasar menilai ulang risiko pasokan di Timur Tengah. Sentimen ditopang minimnya sinyal kemajuan baru dalam peluang pembicaraan AS-Iran serta gangguan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah serangkaian serangan terhadap kapal pekan ini.
Brent naik 1,9% ke US$103,82 per barel, sementara WTI menguat 2,0% ke US$94,83 per barel pada 05:48 ET (09:48 GMT). Kenaikan ini melanjutkan lonjakan Rabu saat harga kembali menembus US$100 per barel di tengah eskalasi ketegangan di jalur pelayaran utama kawasan.
Tekanan utama datang dari insiden di Selat Hormuz, setelah Iran dilaporkan menyerang tiga kapal dan menyita dua di antaranya. Teheran menyebut aksi tersebut sebagai respons atas blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat, memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat berujung pada gangguan suplai yang lebih nyata.
Di sisi diplomasi, status pembicaraan damai AS-Iran masih tidak jelas, meski Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dua minggu secara indefinitif awal pekan ini. Iran menolak negosiasi lanjutan selama blokade laut AS masih berlangsung, sementara Trump meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz sebelum kesepakatan besar dapat diteken, membuat kedua pihak terlihat berada dalam kebuntuan.
ING menilai pasar “harus mereprice ekspektasi” seiring memudarnya harapan kemajuan negosiasi, sehingga risiko gangguan pasokan kembali menjadi fokus. Selat Hormuz dipandang krusial karena penutupan efektifnya berpotensi menahan sekitar 20% pasokan minyak global, dengan dampak yang dinilai paling terasa bagi ekonomi Asia dan Timur Tengah, sekaligus meningkatkan risiko kejutan energi terhadap ekonomi dunia.
Dari AS, ekspor minyak dan produk minyak bumi tercatat mencapai rekor 12,88 juta barel per hari pada pekan lalu di tengah lonjakan permintaan dari Eropa dan Asia akibat gangguan pasokan Timur Tengah. Data EIA juga menunjukkan persediaan bensin turun hampir 4,6 juta barel (lebih besar dari ekspektasi penurunan 1,5 juta), distilat turun 3,4 juta barel (vs ekspektasi 2,5 juta), meski total persediaan minyak AS justru naik 1,9 juta barel ketika pasar memperkirakan penurunan 1,9 juta barel. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id