Minyak Melonjak saat Harapan De-eskalasi Memudar
Harga minyak menguat tajam pada Kamis (26/3) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak yakin masih bersedia membuat kesepakatan damai dengan Iran. Trump juga mengungkapkan bahwa Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai “hadiah” untuk menunjukkan bahwa mereka bernegosiasi dengan itikad baik.
Pekan ini, minyak bergerak dengan pola “jungkat-jungkit” berlawanan arah dengan ekuitas—turun satu hari, lalu naik keesokan harinya—dan kerap memberi tekanan pada saham ketika harga energi naik. Pergerakan ini menegaskan pasar masih sangat headline-driven, khususnya terkait arah konflik dan akses pelayaran di kawasan Teluk.
Pada 15:23 ET (19:23 GMT), kontrak berjangka Brent untuk Mei—sebagai acuan global—naik 5,5% ke $107,86/barel, sementara WTI naik 4,5% ke $94,37/barel. Volatilitas tetap tinggi dalam beberapa pekan terakhir karena penutupan efektif Selat Hormuz mengganggu aliran energi. Brent bahkan sempat melesat mendekati $120/barel awal bulan ini di tengah kekhawatiran gangguan pasokan.
Minyak sempat turun pada Rabu setelah AS mengirim rencana damai 15 poin kepada Iran untuk menghentikan permusuhan. Namun Iran merespons keras rencana gencatan senjata tersebut. Media semi-resmi Tasnim melaporkan Iran telah menyerahkan respons resmi atas proposal itu dan kini menunggu balasan Washington.
Trump, melalui unggahan media sosial pada Kamis, menyebut negosiator Iran “memohon” agar AS membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang hampir memasuki satu bulan. Ia mengulang pernyataan serupa dalam rapat kabinet, sambil menambahkan bahwa ia tidak tahu apakah kesepakatan itu bisa tercapai dan apakah AS “bersedia” melakukannya. “Mereka seharusnya melakukan itu empat minggu lalu,” kata Trump.
José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers, menilai pesan Trump sejauh ini membantu meredam volatilitas Wall Street dengan membatasi dampak ke saham, suku bunga, dan energi. Namun ia menegaskan investor perlu melihat kemajuan nyata segera; jika perang berlanjut dan WTI kembali bertahan di atas $100 selama beberapa pekan, ekuitas dan obligasi AS berisiko mengalami tekanan yang jauh lebih dalam.
Torres juga memperingatkan risiko resesi cenderung meningkat ketika perekonomian terkena “oil price shock”, karena belanja dan investasi tertekan saat porsi biaya dialihkan ke bahan bakar dan energi. Dalam kondisi tersebut, pasar akan terus sensitif terhadap setiap headline dari jalur diplomasi maupun eskalasi, terutama yang berkaitan dengan Selat Hormuz dan pasokan energi global.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id