• Fri, Mar 27, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

27 March 2026 02:42  |

Minyak Melonjak saat Harapan De-eskalasi Memudar

Harga minyak menguat tajam pada Kamis (26/3) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak yakin masih bersedia membuat kesepakatan damai dengan Iran. Trump juga mengungkapkan bahwa Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai “hadiah” untuk menunjukkan bahwa mereka bernegosiasi dengan itikad baik.

Pekan ini, minyak bergerak dengan pola “jungkat-jungkit” berlawanan arah dengan ekuitas—turun satu hari, lalu naik keesokan harinya—dan kerap memberi tekanan pada saham ketika harga energi naik. Pergerakan ini menegaskan pasar masih sangat headline-driven, khususnya terkait arah konflik dan akses pelayaran di kawasan Teluk.

Pada 15:23 ET (19:23 GMT), kontrak berjangka Brent untuk Mei—sebagai acuan global—naik 5,5% ke $107,86/barel, sementara WTI naik 4,5% ke $94,37/barel. Volatilitas tetap tinggi dalam beberapa pekan terakhir karena penutupan efektif Selat Hormuz mengganggu aliran energi. Brent bahkan sempat melesat mendekati $120/barel awal bulan ini di tengah kekhawatiran gangguan pasokan.

Minyak sempat turun pada Rabu setelah AS mengirim rencana damai 15 poin kepada Iran untuk menghentikan permusuhan. Namun Iran merespons keras rencana gencatan senjata tersebut. Media semi-resmi Tasnim melaporkan Iran telah menyerahkan respons resmi atas proposal itu dan kini menunggu balasan Washington.

Trump, melalui unggahan media sosial pada Kamis, menyebut negosiator Iran “memohon” agar AS membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang hampir memasuki satu bulan. Ia mengulang pernyataan serupa dalam rapat kabinet, sambil menambahkan bahwa ia tidak tahu apakah kesepakatan itu bisa tercapai dan apakah AS “bersedia” melakukannya. “Mereka seharusnya melakukan itu empat minggu lalu,” kata Trump.

José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers, menilai pesan Trump sejauh ini membantu meredam volatilitas Wall Street dengan membatasi dampak ke saham, suku bunga, dan energi. Namun ia menegaskan investor perlu melihat kemajuan nyata segera; jika perang berlanjut dan WTI kembali bertahan di atas $100 selama beberapa pekan, ekuitas dan obligasi AS berisiko mengalami tekanan yang jauh lebih dalam.

Torres juga memperingatkan risiko resesi cenderung meningkat ketika perekonomian terkena “oil price shock”, karena belanja dan investasi tertekan saat porsi biaya dialihkan ke bahan bakar dan energi. Dalam kondisi tersebut, pasar akan terus sensitif terhadap setiap headline dari jalur diplomasi maupun eskalasi, terutama yang berkaitan dengan Selat Hormuz dan pasokan energi global.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com NM23 Ai