• Thu, Mar 26, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

26 March 2026 13:08  |

Minyak Naik Lagi, Pasar Ragu De-eskalasi Cepat

Harga minyak naik kembali setelah pasar merespons sinyal yang saling bertentangan dari AS dan Iran soal upaya mengakhiri perang yang membuat Selat Hormuz nyaris tertutup. Brent naik ke atas US$104/barel setelah turun lebih dari 2% pada Rabu, sementara WTI bergerak di sekitar US$92. Gedung Putih menegaskan pembicaraan damai masih berjalan, tetapi Teheran menolak pendekatan AS dan mengajukan syarat sendiri, termasuk kontrol kedaulatan atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Risiko pembatasan baru di Hormuz ikut mengangkat ketidakpastian. Parlemen Iran disebut menyiapkan rancangan aturan untuk memungut biaya sebagai imbalan “keamanan” bagi kapal yang melintas, dan rencananya akan difinalisasi pekan depan, menurut Fars. Di saat yang sama, gangguan pasokan tetap menjadi narasi utama: penutupan hampir total Hormuz telah menghilangkan jutaan barel produksi harian dan mendorong harga produk (diesel hingga avtur) naik lebih cepat daripada minyak mentah.

Pasar juga memantau risiko tambahan dari front lain, termasuk laporan drone yang menargetkan tanker Turki bermuatan minyak Urals di dekat Istanbul. BlackRock memperingatkan investor mungkin meremehkan risiko Iran, dan harga minyak masih bisa melonjak hingga US$150/barel bahkan jika perang berakhir segera, karena normalisasi rantai pasok membutuhkan waktu.

Di Washington, Trump kembali menegaskan AS sedang berbicara dengan Teheran dan berharap konflik bisa diakhiri dalam beberapa pekan, namun Gedung Putih juga menyertakan ancaman eskalasi baru. Juru bicara Karoline Leavitt mengatakan Trump “tidak menggertak” dan siap meningkatkan tekanan. Sparta Commodities menilai pasar terlalu dini jika sudah mem-price in de-eskalasi, mengingat Iran dan Israel belum menunjukkan minat pada penyelesaian cepat serta pengerahan pasukan AS terus bertambah.

Sumber yang mengetahui menyebut Pentagon memerintahkan pengerahan dua Marine Expeditionary Units (sekitar 5.000 personel plus pesawat dan kendaraan pendarat) ke kawasan. Selain itu, AS juga disebut mengirim lebih dari 1.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82. Arus militer ini memperkuat sinyal bahwa opsi keamanan tetap berjalan bersamaan dengan jalur diplomasi, sehingga volatilitas minyak diperkirakan bertahan.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com NM23 Ai