Minyak Naik Lagi, Pasar Ragu De-eskalasi Cepat
Harga minyak naik kembali setelah pasar merespons sinyal yang saling bertentangan dari AS dan Iran soal upaya mengakhiri perang yang membuat Selat Hormuz nyaris tertutup. Brent naik ke atas US$104/barel setelah turun lebih dari 2% pada Rabu, sementara WTI bergerak di sekitar US$92. Gedung Putih menegaskan pembicaraan damai masih berjalan, tetapi Teheran menolak pendekatan AS dan mengajukan syarat sendiri, termasuk kontrol kedaulatan atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Risiko pembatasan baru di Hormuz ikut mengangkat ketidakpastian. Parlemen Iran disebut menyiapkan rancangan aturan untuk memungut biaya sebagai imbalan “keamanan” bagi kapal yang melintas, dan rencananya akan difinalisasi pekan depan, menurut Fars. Di saat yang sama, gangguan pasokan tetap menjadi narasi utama: penutupan hampir total Hormuz telah menghilangkan jutaan barel produksi harian dan mendorong harga produk (diesel hingga avtur) naik lebih cepat daripada minyak mentah.
Pasar juga memantau risiko tambahan dari front lain, termasuk laporan drone yang menargetkan tanker Turki bermuatan minyak Urals di dekat Istanbul. BlackRock memperingatkan investor mungkin meremehkan risiko Iran, dan harga minyak masih bisa melonjak hingga US$150/barel bahkan jika perang berakhir segera, karena normalisasi rantai pasok membutuhkan waktu.
Di Washington, Trump kembali menegaskan AS sedang berbicara dengan Teheran dan berharap konflik bisa diakhiri dalam beberapa pekan, namun Gedung Putih juga menyertakan ancaman eskalasi baru. Juru bicara Karoline Leavitt mengatakan Trump “tidak menggertak” dan siap meningkatkan tekanan. Sparta Commodities menilai pasar terlalu dini jika sudah mem-price in de-eskalasi, mengingat Iran dan Israel belum menunjukkan minat pada penyelesaian cepat serta pengerahan pasukan AS terus bertambah.
Sumber yang mengetahui menyebut Pentagon memerintahkan pengerahan dua Marine Expeditionary Units (sekitar 5.000 personel plus pesawat dan kendaraan pendarat) ke kawasan. Selain itu, AS juga disebut mengirim lebih dari 1.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82. Arus militer ini memperkuat sinyal bahwa opsi keamanan tetap berjalan bersamaan dengan jalur diplomasi, sehingga volatilitas minyak diperkirakan bertahan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id