Minyak Turun Sekitar 2% saat Iran Meninjau Proposal AS untuk Mengakhiri Perang
Harga minyak melemah sekitar 2% pada Rabu setelah memangkas penurunan yang lebih dalam di awal sesi, ketika pasar merespons kabar bahwa Iran sedang meninjau proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk yang telah mengganggu aliran energi global dari wilayah Persia.
Kontrak berjangka Brent turun $2,27 atau 2,2% dan ditutup di $102,22/barel, sementara WTI melemah $2,03 atau 2,2% dan settle di $90,32/barel. Sebelumnya pada sesi yang sama, Brent sempat turun hingga sekitar 7%, mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap perkembangan diplomatik.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran masih meninjau proposal AS meski respons awalnya negatif, mengindikasikan Iran sejauh ini belum menolaknya secara total. Di sisi lain, Gedung Putih kembali menegaskan tekanan terhadap Teheran. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden AS Donald Trump akan “memukul lebih keras” Iran jika Teheran tidak menerima bahwa negara itu telah “dikalahkan secara militer.”
Secara publik, para pejabat Iran tetap menunjukkan penolakan keras terhadap kemungkinan negosiasi dengan pemerintahan Trump. Namun, keterlambatan dalam penyampaian respons resmi kepada Pakistan—yang disebut menjadi pihak pengantar proposal 15 poin dari Washington—dibaca sebagai sinyal bahwa setidaknya sebagian pihak di Teheran masih mempertimbangkan opsi tersebut.
Analis Ritterbusch and Associates menilai pasar minyak akan terus bergerak “zig-zag” mengikuti headline perang Iran. Menurut mereka, upaya Gedung Putih untuk menonjolkan adanya pembicaraan akan berhadapan dengan sikap Iran yang menolak mengakui kemajuan diskusi, sehingga membatasi potensi penurunan harga yang lebih dalam dan membuat volatilitas tetap tinggi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id