Emas Turun saat Jalur Damai AS-Iran Masih Buram
Harga emas kembali turun pada sesi awal eropa Kamis (26/3) setelah sempat pulih tipis selama dua sesi terakhir, seiring pasar menilai pernyataan yang saling bertolak belakang dari Amerika Serikat dan Iran terkait peluang berakhirnya perang di Timur Tengah. Ketidakjelasan arah diplomasi membuat pelaku pasar kembali berhati-hati terhadap prospek logam mulia dalam jangka pendek.
Bullion sempat merosot hingga 2% dan turun ke bawah US$4.420 per ounce, menghapus sebagian besar kenaikan yang tercatat dalam dua hari sebelumnya. Gedung Putih menegaskan pembicaraan untuk mengakhiri konflik dengan Iran masih berlangsung, namun Teheran secara terbuka menolak pendekatan dari AS dan justru mengajukan syaratnya sendiri. Di saat yang sama, Washington juga mengirim ribuan pasukan tambahan ke kawasan, sehingga memicu kekhawatiran akan kemungkinan invasi darat yang lebih berisiko.
Sejak perang pecah hampir satu bulan lalu, harga emas telah turun lebih dari 15%. Pergerakan emas belakangan cenderung sejalan dengan saham dan berlawanan arah dengan minyak. Kenaikan tajam harga energi memicu kekhawatiran inflasi, sehingga investor mulai memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga lebih lama atau bahkan menaikkannya. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Meski begitu, peluang kenaikan suku bunga The Fed juga bisa dibatasi oleh risiko perlambatan ekonomi AS apabila perang berlangsung lebih lama. Sejumlah lembaga di Wall Street mulai memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika tahun ini, sambil menaikkan perkiraan inflasi dan pengangguran serta meningkatkan probabilitas resesi.
Di sisi lain, harga minyak justru naik pada Kamis setelah parlemen Iran mulai membahas rancangan undang-undang untuk mengenakan biaya pada kapal-kapal yang ingin melintas aman di Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi titik krusial pasokan energi dunia dan secara efektif terganggu sejak perang dimulai. Tekanan tersebut juga ikut membebani pasar saham Asia yang berbalik turun setelah dua hari sebelumnya sempat menguat.
Tekanan tambahan juga datang dari arus keluar dana di produk exchange-traded funds (ETF) berbasis emas. Menurut perhitungan Bloomberg, sekitar 85 ton kepemilikan emas di ETF telah dilepas sejak perang dimulai. Analis Standard Chartered menilai posisi pasar emas yang sudah terlalu padat masih rentan terhadap aksi likuidasi lanjutan dalam waktu dekat.
Pada perdagangan sore di Singapura, harga emas spot turun 1,5% menjadi US$4.437,62 per ons. Perak ikut melemah 1,8% ke US$69,90, sementara platinum dan palladium juga terkoreksi. Di saat yang sama, Bloomberg Dollar Spot Index terpantau relatif datar.(yds)
Sumber: Newsmaker.id