Minyak Kembali Menguat di Tengah Kekhawatiran Meluasnya Eskalasi Perang Timur Tengah
Harga minyak kembali naik dalam perdagangan yang bergejolak, memangkas sebagian penurunan tajam pada Senin, di tengah kekhawatiran perang di Timur Tengah dapat meningkat. Pasokan minyak yang mengalir ke pasar global masih tersendat karena arus melalui Selat Hormuz tetap “tercekik”—menjaga premi risiko tetap tebal.
Brent kembali naik menembus $100 per barel, setelah sebelumnya anjlok 11% pada Senin menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump menunda selama lima hari ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Trump mengklaim AS sedang berdialog dengan Teheran untuk mengakhiri konflik, tetapi Iran membantah negosiasi terjadi, sementara pertempuran antara aliansi AS–Israel dan Iran terus berlanjut tanpa tanda mereda. Di sisi lain, WTI—patokan minyak AS—menguat sekitar 3%.
Harga sempat mengurangi kenaikan setelah Xinhua melaporkan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan semua pihak memanfaatkan setiap peluang perdamaian dan memulai pembicaraan sesegera mungkin. Namun pasar menilai stabilisasi belum solid karena faktor pasokan fisik tetap ketat.
Sejumlah negara tetangga Arab di Teluk disebut mempertimbangkan untuk bergabung dalam perang bersama AS dan Israel, tetapi ambang batasnya tinggi: mereka baru akan masuk jika Iran benar-benar menyerang infrastruktur vital—khususnya listrik dan air—di kawasan Teluk. Skenario ini menjadi perhatian karena dapat memperluas konflik dan memperbesar gangguan pasokan energi.
Iran juga mulai mengenakan biaya transit terhadap sebagian kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz, mempertegas kendali Teheran atas jalur energi maritim krusial tersebut. RBC Capital Markets, termasuk analis Helima Croft, menilai belum jelas sejauh mana pembicaraan “jalur belakang” berkembang atau apakah IRGC sedang berminat untuk berdamai saat mereka masih memegang kontrol kuat atas Hormuz. “Kapal, bukan soundbite, yang pada akhirnya paling menentukan bagi pasar fisik,” tulis RBC.
Sepanjang bulan ini, Brent sudah naik sekitar 40% karena kekhawatiran konflik antara AS, Israel, dan Iran akan memicu krisis energi global dan mendorong inflasi. Perang menghambat transit di Hormuz dan memaksa produsen Teluk Persia memangkas jutaan barel per hari. Produk minyak seperti diesel dan jet fuel bahkan reli lebih agresif daripada crude, menekan konsumen dan membuat pemerintah di berbagai negara mulai gelisah.
Dampaknya meluas secara global. Chile disebut bersiap menaikkan harga bahan bakar hingga sekitar setengah, sementara di Asia, Jepang memerintahkan evaluasi menyeluruh rantai pasok produk terkait minyak dan disebut menanyakan kemungkinan intervensi di pasar futures minyak. Di tempat lain, Thailand menaikkan harga diesel, kilang terbesar China menyatakan akan memprioritaskan pasokan domestik, dan Filipina memperingatkan kemungkinan pesawat “terpaksa grounded” karena kekurangan jet fuel.
Berbicara di konferensi CERAWeek by S&P Global di Houston pada Selasa, CEO Shell Wael Sawan memperkirakan gangguan fisik pasokan akan menyebar dari Asia ke Eropa bulan depan. Sementara itu, data harga menunjukkan WTI kontrak Mei naik 3,60% ke $91,30 per barel, sedangkan Brent kontrak Mei bertambah 2,88% ke $102,82 per barel.
Sebelumnya di akhir pekan, Trump sempat mengancam akan membombardir infrastruktur energi Iran jika Hormuz tidak dibuka penuh dalam 48 jam. Keputusan menunda serangan dipandang sebagai upaya mengelola harga minyak—dan Trump mengakui kaitannya, menyatakan harga minyak akan “jatuh seperti batu” jika kesepakatan tercapai.
Namun, perubahan pesan Trump yang berulang membuat investor kelelahan dan volume perdagangan menurun, karena trader harus menyaring aliran headline yang nyaris konstan dan kadang saling bertentangan. Bahkan, empat dari enam pergerakan terbesar sepanjang sejarah kontrak Brent terjadi sejak konflik dimulai—menegaskan betapa ekstremnya volatilitas.
Goldman Sachs memperingatkan jika shock ini berlangsung lebih lama, keketatan ekstrem yang kini terkonsentrasi di Timur Tengah dan Asia bisa menyebar. Co-head riset komoditas global Goldman, Daan Struyven, mengatakan pada akhirnya “demand destruction” mungkin diperlukan untuk menyeimbangkan kembali pasokan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id