Emas Stabil Pasca 9 Hari Pelemahan yang Dipicu Perang Iran
Harga emas cenderung stabil setelah aksi jual besar yang mendorong logam mulia ini turun lebih dari 15% sejak konflik Timur Tengah meletus. Setelah sempat berfluktuasi antara menguat dan melemah, emas bergerak relatif datar ketika investor menimbang ulang kombinasi risiko geopolitik, inflasi energi, dan prospek suku bunga global.
Kenaikan harga energi akibat perang meningkatkan risiko inflasi dan mendorong pasar kembali memasang skenario suku bunga lebih tinggi untuk lebih lama—sebuah hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di saat yang sama, pelemahan saham dan obligasi global juga memaksa sebagian investor menjual emas untuk mendapatkan likuiditas, sehingga tekanan pada bullion makin dalam dan membawa emas mendekati ambang bear market.
Seperti banyak aset lainnya, emas bergerak liar mengikuti serbuan headline perang. Pertempuran antara aliansi AS–Israel dan Iran disebut terus berlangsung, meski Presiden AS Donald Trump mengklaim pembicaraan tengah berjalan untuk mengakhiri konflik. Iran juga mulai mengenakan biaya transit pada sebagian kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz—sinyal lain atas kendali Teheran terhadap salah satu jalur energi maritim terpenting dunia.
Menurut Frank Monkam, head of cross-asset macro strategy and trading di Buffalo Bayou Commodities, repricing kebijakan moneter AS yang lebih hawkish, penguatan dolar, serta naiknya yield menjadi faktor utama yang mendorong koreksi emas. Ia menambahkan tekanan juga diperparah oleh proses deleveraging investor ritel dan aksi jual dari pelaku emerging market—termasuk bank sentral—yang melepas emas untuk memperkuat cadangan devisa di tengah lonjakan biaya energi.
Pola serupa pernah terjadi pada awal 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina: emas sempat melonjak sebagai safe haven, namun kemudian turun berbulan-bulan ketika shock harga energi menyebar ke pasar dan memperkuat tekanan inflasi. Suki Cooper, global head of commodities research di Standard Chartered, menilai koreksi emas kali ini terlihat lebih tajam dari biasanya. Namun ia menekankan bukan hal yang aneh bila emas tertekan selama empat hingga enam pekan setelah periode distress ekstrem, karena emas sering menjadi aset yang paling mudah dicairkan saat pasar membutuhkan dana.
Bloomberg juga melaporkan bahwa bank sentral Turki sempat membahas potensi transaksi gold-for-foreign currency swap di pasar London—langkah yang bisa digunakan untuk menahan volatilitas lira yang terkait dampak perang Iran. Meski emas melemah dalam beberapa pekan terakhir, reli panjang sebelumnya ditopang oleh kombinasi ketegangan geopolitik dan perdagangan, serta pembelian bank sentral yang kuat. Namun sebagian negara akumulator emas adalah importir energi—sehingga lonjakan tagihan minyak dan gas membuat ruang dolar yang bisa “didiversifikasi” ke emas menjadi lebih sempit.
Pada update terakhir, emas spot naik tipis 0,1% ke $4.413,01 per ons pada pukul 10:45 pagi di New York. Perak turun 0,6%, sementara platinum menguat dan palladium melemah. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id