Dolar Menguat karena Permintaan Safe Haven, Aussie Melemah Jelang Data Inflasi
Dolar AS menguat didorong arus safe haven ketika pertempuran antara aliansi AS–Israel dan Iran terus berlanjut, meski Presiden Donald Trump mengklaim pembicaraan tengah berjalan untuk mengakhiri perang. Di saat yang sama, dolar Australia menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kelompok G10 menjelang rilis data inflasi domestik.
Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2% setelah sempat menguat hingga 0,4% pada awal perdagangan. Andrew Hazlett dari Monex menilai serangan semalam antara Iran dan Israel menghidupkan kembali permintaan safe haven terhadap dolar, karena “tidak ada padanan operasional” dari jeda yang disebut Trump di kedua pihak. Ia juga menilai pernyataan Trump sempat memicu mispricing risiko, namun pagi ini pasar kembali memasukkan risiko tersebut karena tidak ada de-eskalasi nyata dan perang tidak bisa “di-switch on/off.”
Dari sisi data AS, estimasi awal dari ADP Research dan Stanford Digital Economy Lab menunjukkan payroll sektor swasta AS naik rata-rata 10.000 per pekan dalam periode empat minggu hingga 7 Maret. Namun di saat yang sama, aktivitas bisnis AS melambat pada Maret mendekati level terendah hampir satu tahun, sementara harga yang dibayar untuk bahan baku dan input lain meningkat.
Data S&P Global menunjukkan flash composite PMI Maret turun 0,5 poin menjadi 51,4 (level di atas 50 masih menandakan ekspansi). Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman mengatakan data PMI flash Maret menantang narasi stagflasi yang “jinak” dari FOMC. Ia menyoroti lonjakan harga input dan output yang dipicu kenaikan harga energi akibat perang. Senada, Win Thin dari Bank of Nassau 1982 menilai dampak konflik Iran mulai terlihat pada PMI. Meski AS dianggap lebih “kebal” dibanding Eropa atau Asia terhadap lonjakan energi, ia menekankan AS tetap tidak sepenuhnya imun.
Di Eropa, EUR/USD turun 0,2% ke 1,1589, seiring aktivitas sektor swasta zona euro tumbuh pada laju paling lambat sejak Mei tahun lalu. Pasar menilai perang memicu inflasi sambil mengancam pemulihan ekonomi yang masih rapuh.
Di Pasifik, AUD/USD turun 0,7% ke 0,6964 menjelang data CPI Australia untuk Februari. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi kemungkinan tetap bertahan di atas target 2%–3% Reserve Bank of Australia. NZD/USD melemah 0,6% ke 0,5825, setelah gubernur bank sentral Selandia Baru memberi sinyal pembuat kebijakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga sebagai respons konflik, dan memilih menunggu lonjakan biaya bahan bakar selama tidak memicu tekanan inflasi yang lebih luas.
Di Asia, USD/JPY naik 0,2% ke 158,79. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi disebut ingin meningkatkan respons terhadap dampak perang Iran, termasuk meninjau ekosistem produk terkait minyak, di tengah meningkatnya risiko kelangkaan dan efek domino ke perekonomian.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id