Minyak Naik usai Iran Bantah Pembicaraan dengan AS
Harga minyak menguat pada Selasa (24/3) karena pasar kembali menilai risiko pasokan, setelah Iran membantah telah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk. Bantahan tersebut bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan kesepakatan bisa segera tercapai, sehingga “war premium” yang sempat luntur kembali masuk ke harga.
Kontrak berjangka Brent naik sekitar $4 atau 4% ke $103,94 per barel pada 04:00 GMT. Sementara WTI menguat $3,49 atau 4% ke $91,62 per barel.
Sehari sebelumnya, harga minyak sempat jatuh lebih dari 10% setelah Trump memerintahkan penundaan lima hari serangan terhadap pembangkit listrik Iran, sambil menyebut AS telah berbicara dengan pejabat Iran (tanpa merinci) dan menemukan “poin-poin kesepakatan utama.” Namun pada Selasa, pasar berbalik menilai bahwa risiko belum hilang setelah Teheran menyangkal adanya kontak.
“Dengan menunda rencana menyerang pembangkit Iran lima hari, AS pada dasarnya menyedot sebagian besar ‘war premium’ dari harga minyak,” kata Tim Waterer, chief market analyst KCM Trade. “Pantulan moderat hari ini lebih seperti pasar mencoba berdiri lagi. Trader sadar bahwa meski misil ditahan, Selat Hormuz masih jauh dari jalur yang benar-benar aman.”
Perang ini telah hampir menghentikan pengiriman sekitar seperlima minyak dunia dan LNG melalui Selat Hormuz. Meski begitu, dua tanker tujuan India dilaporkan berhasil melintas pada Senin, memberi sinyal ada arus “tipis” yang mulai bergerak meski sebagian besar lalu lintas tetap tersendat.
Iran menolak klaim adanya kontak dengan Washington dan menyebutnya sebagai upaya memanipulasi pasar keuangan. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang target AS dan menyebut komentar Trump sebagai “operasi psikologis usang.” Ketegangan pernyataan ini kembali mempertebal ketidakpastian pasar.
Macquarie menilai meski tensi bisa menurun setelah pengumuman Trump pada Senin, harga berpotensi memiliki “lantai” di kisaran $85–$90 dan cenderung kembali bergerak menuju area $110 sampai Selat Hormuz benar-benar dipulihkan. Bahkan jika selat tetap efektif tertutup hingga akhir April, Macquarie memperingatkan Brent masih bisa menyentuh $150 per barel.
Di lapangan, serangan terhadap infrastruktur energi juga dilaporkan berlanjut. Kantor perusahaan gas dan stasiun pengurang tekanan disebut terkena serangan di kota Isfahan, sementara sebuah proyektil menghantam pipa gas yang memasok pembangkit listrik di Khorramshahr, menurut kantor berita Fars.
Untuk meredakan keketatan pasokan, AS sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut. Sumber industri menyebut trader kemudian menawarkan minyak Iran kepada kilang India dengan premi di atas ICE Brent. Sementara itu, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan pihaknya berkonsultasi dengan pemerintah Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan cadangan strategis tambahan “jika diperlukan.”
Meski ada upaya stabilisasi, pasar masih bersiap menghadapi gangguan setidaknya hingga April, yang menjaga Brent tetap ditopang risk premium serta mempertahankan dorongan inflasi, kata Priyanka Sachdeva, senior market analyst Phillip Nova. Di konferensi Houston, para eksekutif energi dan menteri juga menyoroti dampak jangka panjang perang AS–Israel melawan Iran terhadap ekonomi global, meski Menteri Energi AS Chris Wright meremehkan besarnya krisis.
Inti Newsmaker: setelah crash, minyak memantul karena bantahan Iran menghidupkan kembali premi risiko. Selama arus kapal di Hormuz belum normal dan serangan terhadap aset energi masih terjadi, minyak akan tetap volatil dan bergerak sangat dipengaruhi headline.(yds)
Sumber: Newsmaker.id