Minyak Naik saat Optimisme De-eskalasi Memudar
Harga minyak melanjutkan kenaikan pada Selasa (24/3), memangkas kerugian pasca turun tajam pada sesi sebelumnya, ketika pelaku pasar energi menilai perkembangan terbaru terkait perang Iran. Kenaikan ini mencerminkan kembalinya premi risiko setelah optimisme de-eskalasi yang sempat menekan harga pada Senin mulai dipertanyakan.
Kontrak Brent untuk pengiriman Mei diperdagangkan naik 2,4% di $102,31 per barel, sementara WTI untuk Mei menguat hampir 3,6% ke $91,27 per barel. Penguatan ini terjadi setelah aksi jual tajam pada Senin, ketika Brent turun sekitar 11% ke area $99 per barel, padahal pada Jumat sempat ditutup di atas $112.
Pada Senin, pernyataan Presiden AS Donald Trump sempat menekan minyak dan mendorong saham menguat. Namun pemulihan pada Selasa menunjukkan pasar masih skeptis terhadap klaim Trump—yang juga dibantah oleh Iran. “Meski Wall Street terlihat euforia, minyak sudah jauh dari titik terendahnya setelah Teheran membantah adanya negosiasi akhir pekan dengan Washington,” kata José Torres, senior economist di Interactive Brokers, seraya menambahkan risiko perang berkepanjangan masih menjadi perhatian utama.
Torres menyoroti bahwa serangan berulang terhadap infrastruktur energi penting di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran gangguan produksi dan transportasi. Ia menilai banyaknya serangan ke aset energi kritis membuat pasar gelisah bahwa kapasitas dan logistik dapat terganggu, sehingga biaya energi berpotensi bertahan lebih tinggi dibanding awal tahun, bahkan jika akhirnya ada kesepakatan.
Sementara itu, Selat Hormuz—yang sebelum perang menangani sekitar 20% pasokan minyak laut global—menjadi titik kunci ketegangan setelah Iran nyaris menghentikan arus melalui jalur tersebut. Media pemerintah Iran pada Minggu menyatakan Teheran akan mengizinkan transit aman melalui selat, kecuali bagi kapal-kapal yang dikaitkan dengan “musuhnya,” menegaskan bahwa risiko pelayaran tetap selektif dan belum sepenuhnya normal.(yds)
Sumber: newsmaker.id