Dolar Berayun Tajam saat Sentimen Risiko Terus Berubah
Dolar AS bergerak whipsaw pada Selasa (24/3), menguat terhadap mata uang utama setelah sempat berayun intraday ketika pelaku pasar terus memantau headline seputar perang Iran. Bloomberg Dollar Spot Index naik sekitar 0,2%, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 2 bps ke 4,36%, menegaskan USD kembali mendapat dukungan dari pergerakan suku bunga.
Pada awal sesi, kekhawatiran konflik yang lebih luas mendorong permintaan safe haven ke dolar. Namun spekulasi soal kemungkinan pembicaraan antara AS dan Iran sempat membuat penguatan dolar teredam dan bergerak mendatar untuk hari itu. Seiring pertempuran antara Iran dan aliansi AS–Israel berlanjut tanpa tanda mereda, dolar kembali menguat meski harga minyak tidak lagi berada di puncak hariannya.
Selain faktor geopolitik, dolar juga mendapat dukungan dari pelemahan euro menyusul rilis data PMI dari ekonomi terbesar zona euro. EUR/USD turun sekitar 0,3% ke 1,1576, setelah aktivitas sektor swasta zona euro tercatat tumbuh pada laju paling lambat sejak Mei tahun lalu. Pasar menilai perang Iran berpotensi memicu inflasi sekaligus mengancam pemulihan ekonomi yang masih rapuh.
Di sisi lain, EUR/GBP naik tipis ke 0,8658 menjelang pernyataan Kanselir Keuangan Inggris Rachel Reeves di parlemen pada Selasa. Sementara NZD/USD turun 0,7% ke 0,5816, setelah Gubernur Bank Sentral Selandia Baru Anna Breman memberi sinyal pembuat kebijakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga sebagai respons konflik Timur Tengah. Ia menekankan bank sentral siap “menunggu” lonjakan biaya bahan bakar selama gangguan tersebut tidak memicu tekanan inflasi yang lebih luas.
Di Asia, USD/JPY menguat tipis sekitar 0,2% ke 158,68, sejalan dengan penguatan moderat dolar secara umum dan sensitivitas yen terhadap harga energi serta selisih suku bunga.(yds)
Sumber: Newsmaker.id