Harga Minyak Melonjak 2%, Brent Kembali di Atas US$100
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% dengan acuan global Brent crude oil kembali diperdagangkan di atas US$100 per barel, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Kenaikan harga terjadi di tengah berlanjutnya konflik yang melibatkan Iran, yang meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak global. Jalur strategis seperti Strait of Hormuz kembali menjadi perhatian utama pasar karena wilayah ini menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah adanya gangguan pengiriman dan ancaman terhadap tanker di kawasan Teluk, yang berpotensi menghambat aliran energi global. Kondisi ini membuat pasar memasukkan “risk premium” ke dalam harga minyak.
Meski sejumlah negara dan lembaga seperti International Energy Agency telah mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar, kekhawatiran terhadap defisit pasokan global masih tinggi.
Penyebab Utama Kenaikan Minyak
1. Risiko Gangguan Pasokan
Konflik yang melibatkan Iran meningkatkan potensi gangguan produksi dan distribusi minyak.
2. Ketegangan di Selat Hormuz
Strait of Hormuz menjadi titik krusial karena jalur ini mengalirkan sekitar 20% minyak dunia.
3. Premi Risiko Geopolitik
Pasar menambahkan “risk premium” akibat ketidakpastian konflik, sehingga harga naik lebih cepat.
4. Keterbatasan Pasokan Pengganti
Upaya negara lain menggantikan pasokan belum cukup untuk menutup potensi kekurangan global.
Dampak yang Perlu Diwaspadai
1. Tekanan Inflasi Global
Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
2. Risiko Perlambatan Ekonomi
Biaya produksi dan transportasi meningkat, berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.
3. Kebijakan Suku Bunga
Bank sentral bisa menunda penurunan suku bunga karena inflasi energi.
4. Volatilitas Pasar Keuangan
Pasar saham, mata uang, dan komoditas akan lebih sensitif terhadap berita geopolitik.(CP)
Sumber: Newsmaker.id