RBA Hawkish, Inflasi dan Guncangan Energi Jadi Fokus
Bank sentral Australia menaikkan suku bunga untuk bulan kedua berturut-turut pada Selasa, mengambil keputusan yang ketat di tengah latar global yang kian volatil akibat perang di Timur Tengah. Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan cash rate 25 basis poin menjadi 4,1%, tertinggi dalam 10 bulan, seraya memperingatkan ada risiko “material” terhadap inflasi ketika harga energi kembali menjadi sumber tekanan.
RBA menilai risiko inflasi kini makin condong ke atas. Lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel dengan Iran menambah kompleksitas bagi bank sentral yang sebelumnya telah mulai melonggarkan kebijakan tahun lalu. Kenaikan kali ini sekaligus membatalkan dua dari tiga pemangkasan yang dilakukan pada 2025, setelah inflasi kembali menguat dan pasar tenaga kerja tetap ketat.
Keputusan RBA diambil lewat pemungutan suara yang paling rapat sejak bank mulai mengungkap hasil voting tahun lalu: 5-4 mendukung kenaikan. Gubernur Michele Bullock mengatakan perbedaan pandangan lebih soal waktu, bukan arah kebijakan, dan menegaskan seluruh anggota dewan sepakat pengetatan tambahan diperlukan. Ia menyebut opsi menunggu hingga Mei sempat dibahas untuk mendapatkan lebih banyak data dan kejelasan terkait konflik Timur Tengah, namun dewan memutuskan bergerak sekarang agar tekanan harga tidak menyebar.
Latar domestik memberi ruang bagi langkah tersebut. Inflasi masih di atas target 2%-3%, dengan headline CPI 3,8% pada Januari dan ukuran inti mencapai 3,4% (tertinggi 16 bulan). Pasar tenaga kerja juga tetap panas, dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Ekonomi tumbuh 2,6% secara tahunan pada kuartal Desember, melampaui perkiraan potensi RBA sekitar 2%. RBA juga mencatat risiko “second-round effects” dari guncangan energi yang dapat menahan inflasi lebih lama.
Respons pasar terbatas namun positif pada mata uang. Dolar Australia menguat sekitar 0,2% ke US$0,7088, sementara futures obligasi pemerintah tenor tiga tahun memangkas pelemahan awal. Pasar kini menilai peluang kenaikan lanjutan pada Mei sekitar 40%, dengan skenario suku bunga mencapai 4,35% pada Agustus sudah sepenuhnya diprice-in.
Dengan konflik Timur Tengah belum menunjukkan arah penyelesaian dan minyak bertahan di atas US$100 per barel, jalur kebijakan RBA akan sangat dipengaruhi dinamika energi dan dampaknya ke inflasi serta permintaan domestik. Survei ANZ pada Selasa menunjukkan sentimen konsumen pekan lalu turun ke level terendah sejak awal 2020, mengindikasikan kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian global mulai menekan keyakinan rumah tangga.
Pasar akan memantau apakah RBA mengunci kenaikan lanjutan pada Mei, terutama melalui perkembangan harga minyak, inflasi inti, ketatnya pasar tenaga kerja, serta indikasi penularan tekanan harga ke sektor jasa dan ekspektasi inflasi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id