Minyak Melonjak Mingguan Terbesar sejak 2022!
Harga minyak menuju kenaikan mingguan terbesar sejak 2022 seiring perang di Timur Tengah memicu gangguan luas di pasar energi, membuat produsen, importir, dan pelaku pengapalan kesulitan menyesuaikan arus pasokan. Risiko yang meningkat pada jalur distribusi utama mendorong premi geopolitik, meski pergerakan intraday tetap volatil.
West Texas Intermediate (WTI) telah menguat sekitar 18% sepanjang pekan ini, namun pada Jumat sempat turun kembali ke bawah $77 per barel setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal “aksi segera” untuk mengurangi tekanan harga. Brent berada di sekitar $83 - $86 per barel setelah menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2024 pada Kamis.
Dari sisi konflik, Iran menyatakan belum meminta gencatan senjata dan tidak berniat bernegosiasi, sementara Israel melanjutkan serangan udara ke Teheran. Ketegangan politik juga meningkat setelah Trump menyampaikan ke media bahwa ia ingin terlibat dalam proses pemilihan pengganti pemimpin tertinggi Iran yang disebut telah terbunuh.
Gangguan pasokan makin nyata ketika arus pelayaran melalui Selat Hormuz “hampir terhenti,” menahan pasokan ke pasar global dan mendorong sebagian produsen mulai menutup produksi (shut-in). Sejumlah kilang dan tanker dilaporkan terdampak, sementara importir menghadapi kesulitan mendapatkan kargo dalam kondisi logistik yang tertekan.
Di sisi kebijakan, AS memberikan kelonggaran jangka pendek untuk memungkinkan India membeli minyak Rusia, namun otoritas menegaskan izin itu hanya mencakup transaksi untuk minyak yang sudah terlanjur tertahan di laut. Pemerintah AS juga mempertimbangkan berbagai opsi untuk merespons lonjakan harga minyak dan bensin, termasuk kemungkinan melepas persediaan darurat, meski hingga kini belum bergerak untuk membuka Strategic Petroleum Reserve.
Tekanan juga muncul dari Asia. China disebut meminta kilang utama menghentikan ekspor diesel dan bensin untuk memprioritaskan kebutuhan domestik, sementara kilang Jepang meminta pemerintah melepas minyak dari cadangan strategis. Pelaku pasar akan memantau tiga variabel utama ke depan: durasi gangguan di Selat Hormuz, respons kebijakan persediaan strategis negara-negara konsumen, serta perubahan permintaan riil Asia di tengah upaya konservasi energi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id