Minyak “Tertahan” Jelang Pembicaraan Nuklir AS–Iran
Minyak bergerak datar pada Senin (16/2), saat pelaku pasar menahan diri jelang putaran kedua pembicaraan nuklir AS–Iran yang ditujukan meredakan tensi—di tengah bayang-bayang potensi kenaikan suplai OPEC+.
Minyak Brent turun tipis 3 sen ke $67,72 per barel pada 07:27 GMT, sementara WTI melemah 3 sen ke $62,86 per barel. Tak ada penyelesaian (settlement) WTI hari ini karena pasar AS libur. Pekan lalu, kedua acuan mencetak pelemahan mingguan: Brent turun sekitar 0,5% dan WTI terkoreksi 1%, setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington “mungkin bisa mencapai kesepakatan” dengan Teheran dalam sebulan ikut menekan harga pada Kamis.
AS dan Iran dijadwalkan menggelar ronde kedua di Jenewa pada Selasa, melanjutkan negosiasi yang kembali dibuka awal bulan ini untuk meredakan sengketa puluhan tahun soal program nuklir Teheran dan mencegah konfrontasi militer baru. Dari pihak Iran, seorang diplomat menyebut Teheran mengejar kesepakatan yang memberi manfaat ekonomi bagi kedua pihak—dengan opsi pembahasan mulai dari investasi energi dan tambang hingga pembelian pesawat.
Namun pasar tak memasang ekspektasi tinggi. Analis IG Tony Sycamore menilai kedua pihak kemungkinan tetap ngotot pada “garis merah” masing-masing, sehingga peluang deal cepat dinilai kecil—dan situasi saat ini bisa menjadi “tenang sebelum badai”. Di sisi lain, tensi lapangan tetap panas: AS disebut sudah mengirim kapal induk kedua ke kawasan dan menyiapkan skenario kampanye militer berkelanjutan jika pembicaraan gagal, sementara Garda Revolusi Iran memperingatkan akan membalas ke pangkalan militer AS jika wilayah Iran diserang.
Di saat risiko geopolitik berpotensi mengerek harga, OPEC+ justru condong untuk kembali melanjutkan kenaikan produksi mulai April setelah jeda tiga bulan, guna memenuhi puncak permintaan musim panas, menurut laporan Reuters.
Likuiditas pasar juga diperkirakan tipis karena libur Tahun Baru Imlek di China, Korea Selatan, dan Taiwan, ditambah Presidents Day di AS. Minimnya sinyal permintaan dari China pekan ini membuat pergerakan berisiko lebih “Random”, sehingga dalam jangka dekat—kata analis—headline geopolitik dan data persediaan (inventory) bakal jadi pemicu utama volatilitas, menjaga minyak rentan berayun tajam dua arah.(yds)
Sumber: Newsmaker.id