Pasca Rally 16%, Oil Kena “Reality Check” di Awal Pekan
Harga minyak jatuh hampir 5% pada Senin (2/2) dan menuju penurunan harian terdalam dalam lebih dari enam bulan. Pemicunya: pernyataan Donald Trump bahwa Iran “serius berbicara” dengan Washington—sinyal de-eskalasi yang langsung memangkas premi risiko geopolitik di pasar minyak.
Pada pukul sekitar 05:28 GMT, Brent turun $3,38 (-4,9%) ke $65,94/barel, sementara WTI terkoreksi $3,33 (-5,1%) ke $61,88/barel. Pergerakan ini membalikkan reli sebelumnya yang sempat ditopang kekhawatiran potensi konflik dengan anggota OPEC.
Komentar Trump di akhir pekan—yang juga mengecilkan ancaman “perang regional” dari Pemimpin Tertinggi Iran—membuat pasar menilai risiko serangan militer ke Iran tidak seurgent yang sempat dipricing sebelumnya. Begitu risiko itu mereda, minyak yang sudah naik tinggi jadi rawan “dilepas” cepat.
Sejumlah analis menilai penurunan ini lebih mirip reset posisi ketimbang perubahan fundamental besar. Logikanya simpel: tidak ada “supply shock” baru, jadi pasar mengembalikan sebagian premi risiko yang sempat ditempelkan saat pasar takut gangguan pasokan Timur Tengah.
Tekanan juga datang dari aksi jual komoditas yang lebih luas, setelah emas dan perak mengalami koreksi tajam—situasi yang ikut diperparah penguatan dolar AS. Ketika dolar menguat dan volatilitas naik, pelaku pasar cenderung mengurangi risiko lintas aset, termasuk energi.
Dari sisi pasokan, OPEC+ juga memutuskan menahan produksi tetap untuk Maret, memperpanjang jeda kenaikan suplai yang sebelumnya sudah “dibekukan” untuk Januari–Maret 2026 karena konsumsi musiman yang lebih lemah. Dengan tensi Iran yang sedikit mendingin dan suplai yang tidak makin ketat, pasar kembali fokus pada cerita lama: minyak masih rentan koreksi kalau premi risiko geopolitik terus tergerus. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id