Minyak Naik Ditengah Hasil Pertemuan Trump-Zelenskiy
Harga minyak naik pada hari Senin (29/12) seiring para investor mempertimbangkan hasil pembicaraan antara Presiden AS dan Ukraina mengenai kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina, serta ketegangan di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan.
Kontrak berjangka minyak Brent naik 67 sen, atau 1,1%, menjadi $61,31 per barel pada pukul 07:51 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 65 sen, atau 1,15%, menjadi $57,39.
Kedua harga acuan tersebut turun lebih dari 2% pada hari Jumat, karena investor menimbang potensi kelebihan pasokan global yang akan datang dan kemungkinan tercapainya kesepakatan perdamaian Ukraina menjelang pertemuan akhir pekan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan Presiden AS Donald Trump.
Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa dia dan Zelenskiy "semakin dekat, mungkin sangat dekat" untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang Ukraina, meskipun mengakui bahwa nasib wilayah Donbas yang diperebutkan masih menjadi isu yang belum terselesaikan.
Kedua pemimpin tersebut berbicara dalam konferensi pers bersama pada Minggu sore setelah pertemuan di resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida. Trump mengatakan akan jelas "dalam beberapa minggu" apakah negosiasi untuk mengakhiri perang ini berhasil.
Namun, pembicaraan perdamaian tidak mencapai kesepakatan mengenai masalah teritorial, sehingga kesepakatan perdamaian Rusia-Ukraina kemungkinan akan terhenti tanpa kemajuan yang cepat, ujar Mingyu Gao, kepala peneliti energi dan kimia di China Futures.
Harga minyak juga naik karena ketegangan geopolitik yang tetap tinggi, dengan Rusia dan Ukraina terus menyerang infrastruktur energi masing-masing selama akhir pekan, kata Yang An, analis dari Haitong Futures yang berbasis di China.
"Timur Tengah juga baru-baru ini terguncang, dengan serangan udara Saudi di Yaman dan Iran yang menyatakan negara itu sedang berada dalam 'perang skala penuh' dengan AS, Eropa, dan Israel. Ini mungkin yang mendorong kekhawatiran pasar tentang potensi gangguan pasokan," tambah Yang.
WTI diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran $55-$60, dengan perhatian juga pada tindakan penegakan hukum AS terhadap pengiriman minyak Venezuela dan kemungkinan dampak dari serangan militer AS terhadap target ISIS di Nigeria, yang menghasilkan sekitar 1,5 juta barel per hari, menurut analis IG Tony Sycamore dalam catatan.(yds)
Sumber: Reuters.com