ING - Pembicaraan Damai Buat Minyak Makin Tertekan
Pasar minyak kembali tertekan seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.
Analis komoditas ING, Ewa Manthey dan Warren Patterson, mencatat bahwa sinyal positif datang dari AS dan Ukraina, meski Rusia memberi peringatan bahwa mereka bisa menolak kesepakatan jika isinya berbeda dari yang pernah dibahas di Alaska antara Presiden Trump dan Presiden Putin. Sikap resmi Moskow diperkirakan akan lebih jelas dalam beberapa hari ke depan, saat utusan khusus AS, Steve Witkoff, berkunjung ke Rusia.
Dari sisi data, American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 1,9 juta barel dalam sepekan, lebih kecil dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 2,4 juta barel. Stok bensin dan bahan bakar distilat justru naik masing-masing 500 ribu barel dan 800 ribu barel. Secara keseluruhan, angka ini dinilai netral karena penurunan stok minyak mentah tidak sedalam yang diharapkan, sementara kenaikan stok BBM juga tidak terlalu besar.
Tekanan juga terlihat di pasar gasoil (diesel). Margin kilang ICE gasoil crack terus melemah, turun mendekati US$28 per barel dari lebih dari US$38 per barel pekan lalu. Time spread gasoil juga menyempit signifikan, dari lebih dari US$43 per ton menjadi sedikit di atas US$27 per ton. Pelemahan ini mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan bahan bakar diesel.
Jika kesepakatan damai Rusia–Ukraina benar-benar tercapai, risiko pasokan terkait sanksi dan serangan drone Ukraina ke infrastruktur kilang Rusia bisa berkurang tajam. Artinya, salah satu faktor utama yang selama ini menopang harga minyak dan diesel berpotensi hilang. Bagi pelaku pasar energi, momentum ini bisa menjadi katalis tambahan bagi tekanan harga, kecuali muncul gangguan pasokan baru atau lonjakan permintaan yang di luar dugaan.(yds)
Sumber: FXstreet.com