Kenaikan Minyak Cuma Nafas Sebentar?
Harga minyak dunia naik tipis pada Rabu setelah sempat menyentuh level terendah satu bulan di sesi sebelumnya. Brent bergerak naik 0,43% ke sekitar US$62,75 per barel, sementara WTI menguat 0,41% ke sekitar US$58,19 per barel. Namun, banyak analis menilai kenaikan ini lebih seperti jeda teknikal jangka pendek, bukan awal tren naik yang kuat.
Analis pasar menilai pergerakan ini didukung sinyal persediaan AS yang sedikit lebih ketat dan aksi short-covering, tetapi sentimen dasar masih condong negatif. Pasar semakin banyak memperhitungkan potensi kelebihan pasokan minyak pada 2026, sementara belum ada pemicu permintaan yang cukup kuat untuk menyeimbangkan pasar. Itu sebabnya, setiap kenaikan harga dinilai rapuh dan berisiko cepat tertekan lagi.
Dari sisi geopolitik, harapan kesepakatan damai Rusia–Ukraina juga menahan kenaikan harga. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan kepada para pemimpin Eropa bahwa ia siap melanjutkan kerangka perdamaian yang didukung AS, dengan hanya beberapa poin perbedaan yang tersisa. Jika kesepakatan tercapai dan sanksi energi Barat terhadap Rusia dilonggarkan, analis memperkirakan harga WTI bisa turun ke kisaran US$55 per barel. Untuk sementara, pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut, namun risikonya cenderung ke harga yang lebih rendah selama pembicaraan damai terus maju.
Di sisi lain, data awal American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS turun, sementara persediaan BBM justru naik. Investor juga menunggu data resmi dari Energy Information Administration. Harapan pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember turut memberi sedikit dukungan bagi harga minyak, karena suku bunga yang lebih rendah berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi dalam jangka berikutnya.(asd)
Sumber: Newsmaker.id