Emas Tembus $4.000, Rally Pecah Rekor
Harga emas spot resmi menembus $4.000/oz untuk pertama kalinya, sempat menyentuh $4.021 dan terakhir bergerak di sekitar $4.018 siang waktu Singapura. Ini jadi tonggak penting bagi logam mulia yang dua tahun lalu masih di bawah $2.000, dengan return tahun ini sudah >50%, melampaui kinerja saham.
Pendorong utamanya: shutdown pemerintah AS yang berkepanjangan, kekhawatiran atas arah ekonomi, dan awal siklus pelonggaran The Fed yang membuat imbal hasil riil melemah—kondisi ramah bagi aset tanpa kupon seperti emas. ETF berbasis emas juga kebanjiran dana; September mencatat inflow bulanan terbesar dalam lebih dari tiga tahun, menambah bensin bagi reli.
Selain faktor makro, pasar juga menimbang isu independensi The Fed di tengah tensi politik di AS. Kekhawatiran bahwa bank sentral bisa terdorong untuk menurunkan suku bunga lebih cepat—meski berisiko memanaskan inflasi—ikut mengerek minat lindung nilai. Analis Macquarie menilai, emas cenderung memuncak saat kekhawatiran terhadap independensi The Fed paling tinggi.
Secara historis, lonjakan emas kerap terjadi saat stres ekonomi-politik: $1.000 pasca krisis finansial global, $2.000 saat pandemi, $3.000 ketika guncangan tarif dagang, dan kini $4.000 di tengah kebuntuan anggaran dan ketidakpastian kebijakan. Sejumlah tokoh pasar juga menilai reli kali ini mencerminkan kegelisahan atas dolar dan penumpukan risiko sistemik.
Di sisi fundamental, bank sentral tetap jadi pembeli besar sejak krisis keuangan, dengan laju akumulasi kian cepat setelah pembekuan cadangan devisa Rusia pada 2022—memicu diversifikasi cadangan. Ke depan, konsolidasi jangka pendek mungkin terjadi setelah kenaikan tanpa henti, namun dukungan struktural—rate cut, inflow ETF, dan pembelian bank sentral—masih menjaga bias naik untuk emas.(asd)
Sumber: Newssmaker.id