CPI Redam Dolar, Minyak Jadi Ancaman Baru
Dolar AS bergerak stabil pada perdagangan Eropa Rabu (15/7) setelah merosot pada sesi sebelumnya. Tekanan terhadap dolar mereda setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan membuat pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Indeks dolar AS berada di level 100,9 setelah sebelumnya turun 0,4%, menjadi pelemahan terbesar dalam hampir dua pekan. Terhadap yen, dolar diperdagangkan di sekitar 162,24. Sementara itu, euro dan poundsterling masing-masing menguat tipis ke US$1,1428 dan US$1,3406.
Data inflasi AS menunjukkan CPI tahunan melambat ke 3,5% pada Juni. Secara bulanan, headline CPI turun 0,4%, menjadi penurunan pertama sejak April 2020, terutama karena harga energi yang sempat melemah.
Imbal hasil Treasury AS ikut turun setelah data inflasi yang lebih dingin menekan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Yield Treasury 2 tahun turun sembilan basis poin dari level tertinggi 16 bulan, menunjukkan pasar mulai lebih yakin bahwa kenaikan suku bunga Juli hampir tidak terjadi.
Meski begitu, Ketua The Fed Kevin Warsh tetap memberi nada tegas dalam testimoninya di hadapan House Financial Services Committee. Ia mengatakan bank sentral tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus tinggi. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 65% untuk kenaikan suku bunga pada September.
Fokus investor juga tertuju pada Timur Tengah setelah ketegangan Iran kembali mendorong harga minyak ke level tertinggi satu bulan. Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara militer AS melanjutkan serangan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal komersial di Selat Hormuz. Dampaknya, dolar masih tertahan karena CPI yang adem, tetapi risiko minyak dan inflasi dari konflik Teluk tetap bisa membatasi pelemahannya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id