Emas Rebound, The Fed dan Konflik Membayangi
Harga emas kembali mendapat dukungan pada perdagangan Kamis (9/7) setelah melemah selama tiga hari beruntun. Logam mulia menguat seiring trader menimbang kembali eskalasi konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Spot gold sempat naik hingga 1,5% dan bergerak di sekitar US$4.100 per troy ounce. Pada pukul 15.44 waktu New York, emas diperdagangkan menguat 1,1% ke level US$4.120,49 per troy ounce.
Kenaikan ini terjadi setelah serangan terbaru di Iran kembali memanaskan situasi kawasan. Komando Pusat AS menyebut serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran menurutnya sudah “berakhir”. Iran kemudian membalas dengan menargetkan pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar.
Bagi pasar emas, konflik Timur Tengah menjadi sentimen yang rumit. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya mendorong permintaan safe haven. Namun di sisi lain, risiko gangguan energi bisa memicu kenaikan harga minyak dan memperkuat tekanan inflasi.
Jika inflasi energi kembali naik, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga bisa kembali diperhitungkan pasar. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai emas mulai menemukan dukungan di atas area US$4.050 per troy ounce. Pelemahan dolar AS dan yield Treasury turut membantu harga emas memantul dari tekanan sebelumnya.
Menurut Hansen, pergerakan emas dalam 24 jam terakhir memperkuat pandangan bahwa pasar mulai bergeser dari fase kapitulasi menuju konsolidasi. Artinya, tekanan jual besar mulai mereda, tetapi emas belum tentu langsung masuk ke tren naik yang kuat.
Secara lebih luas, emas masih turun lebih dari seperlima sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Aksi ambil untung besar sebelumnya telah mengakhiri reli panjang selama tiga tahun dan beberapa kali mendorong harga emas turun ke bawah US$4.000.
Tekanan tersebut juga membuat sejumlah bank memangkas proyeksi harga emas. HSBC memangkas estimasi rata-rata harga emas 2026 sebesar 6,3% menjadi US$4.560 per troy ounce, mengikuti langkah serupa dari UBS, Deutsche Bank, dan Goldman Sachs.
Di pasar logam mulia lainnya, perak ikut menguat 2,8% ke level US$59,91 per troy ounce. Platinum dan palladium juga bergerak naik, sementara indeks dolar Bloomberg relatif tidak banyak berubah.
Bagi market, rebound emas saat ini memberi sinyal bahwa tekanan jual mulai tertahan. Namun, reli masih belum sepenuhnya aman selama konflik Timur Tengah berisiko mendorong inflasi energi dan membuat The Fed tetap hawkish.(arl)
Sumber:: Newsmaker.id