Emas Bertahan di Atas $4100, FOMC dan Konflik Iran Jadi Fokus
Harga emas bertahan di atas level $4100 pada paruh pertama perdagangan sesi Eropa, Kamis (9/7). Pergerakan ini melanjutkan kenaikan dari level terendah satu pekan sebelumnya, seiring dolar AS masih melemah setelah risalah rapat FOMC tidak menunjukkan pergeseran hawkish yang signifikan.
Risalah rapat FOMC pada 16–17 Juni menunjukkan para pejabat The Fed masih terpecah dalam melihat arah suku bunga. Banyak peserta rapat menilai suku bunga federal funds yang sesuai pada akhir tahun ini akan berada di dalam atau sedikit di bawah kisaran target saat ini. Namun, pejabat The Fed juga tetap menyoroti risiko inflasi yang masih tinggi dan membuka peluang perlunya pengetatan kebijakan untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.
Meski data Nonfarm Payrolls AS sebelumnya melemah, pasar masih memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada September. Kondisi ini membuat pelemahan dolar AS tetap terbatas dan membatasi ruang penguatan emas, mengingat logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran kembali menjadi perhatian utama pasar. Militer AS melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menargetkan instalasi dan aset militer AS di Bahrain serta Kuwait. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran kini telah berakhir.
Dari sisi market analis, kombinasi risiko inflasi, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan ketegangan Timur Tengah membuat pemulihan emas berpotensi tetap terbatas. Pasar kini menanti data klaim pengangguran mingguan AS serta pernyataan sejumlah pejabat FOMC untuk membaca arah dolar AS.
Namun, fokus utama tetap tertuju pada konflik Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar global dan menciptakan peluang pergerakan baru pada harga emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id