Emas Tertahan, Sinyal The Fed Masih Membayangi
Harga emas bergerak stabil setelah mencatat kenaikan mingguan pertama sejak Mei. Logam mulia sempat berada di sekitar US$4.162 per troy ounce, setelah pekan lalu menguat lebih dari 2%.
Penguatan emas sebelumnya didukung oleh menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dan turunnya harga energi membuat pasar menilai The Fed tidak terlalu terdesak untuk kembali mengetatkan kebijakan moneter.
Harga minyak yang melemah juga ikut membantu meredakan tekanan inflasi. Minyak turun setelah semakin banyak kapal tanker melewati Selat Hormuz dan OPEC+ memberi sinyal akan menambah pasokan. Kondisi ini membuat kekhawatiran terhadap inflasi dari sektor energi mulai berkurang.
Meski begitu, kenaikan emas masih terbatas karena inflasi AS tetap berada di atas target The Fed. Analis menilai bank sentral masih akan berhati-hati untuk melonggarkan kebijakan. Selain energi, pasar juga mencermati tekanan harga dari investasi kecerdasan buatan atau AI dan gangguan pasokan akibat cuaca.
Di sisi lain, dolar AS kembali menguat setelah sebelumnya melemah pada pekan lalu. Penguatan dolar ikut menahan laju emas, karena emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Selain itu, pasar juga memperhatikan upaya Presiden AS Donald Trump dan sekutunya untuk membentuk ulang jajaran Federal Reserve.
Pada pukul 11.35 waktu Singapura, harga emas spot turun 0,3% ke level US$4.166,47 per troy ounce. Perak melemah 0,7% ke US$61,98 per troy ounce, sementara platinum dan palladium bergerak relatif stabil. Untuk saat ini, emas masih mendapat dukungan dari meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga, tetapi penguatan dolar dan inflasi yang masih tinggi membatasi ruang kenaikannya.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id