Emas Stabil Pasca Merosot Ke Terendah baru 7 Bulan
Harga emas masih berada dalam tekanan karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi berbasis energi. Kondisi tersebut membuat pasar kembali menilai ulang peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve secara lebih hawkish.
Meski emas biasanya mendapat dukungan dari meningkatnya risiko geopolitik dan inflasi, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi justru menjadi beban utama. Hal ini karena emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik dibandingkan aset berbunga ketika suku bunga naik.
Di sisi lain, ketidakpastian terkait peluang pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Qatar turut mendukung penguatan dolar AS. Indeks Dolar AS atau DXY bergerak di sekitar level 101,10 dan berada di jalur kenaikan bulanan kedua secara beruntun. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September sebesar 63%. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, juga menyatakan bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin masih dibutuhkan untuk membawa inflasi kembali ke target, meskipun ia turut mencemaskan dampaknya terhadap ekonomi.
Fokus pasar kini tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat pekan ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan The Fed berikutnya. Laporan JOLTS menunjukkan lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Selanjutnya, pasar akan mencermati data ADP Employment Change pada Rabu dan Nonfarm Payrolls atau NFP pada Kamis.
Dari sisi teknikal, level US$4.000 masih menjadi support psikologis penting bagi XAU/USD. Selama level ini belum ditembus secara tegas, emas berpotensi melanjutkan konsolidasi di dekat area rendah terbaru. Strategis Societe Generale menilai, meski penurunan emas terlihat cukup dalam, sinyal rebound yang kuat belum terlihat. Jika terjadi pantulan jangka pendek, level US$4.100 dapat menjadi resistance awal, sementara pelemahan di bawah US$3.885 berpotensi membuka ruang menuju US$3.750 hingga US$3.600.(yds)
Source: Newsmaker.id