Pound Bergerak Terbatas, Pasar Cermati Data Inggris dan AS
Pound sterling bergerak terbatas terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (30/6), setelah pasar mencerna data pertumbuhan ekonomi Inggris dan laporan tenaga kerja Amerika Serikat. GBP/USD sempat bergerak di sekitar 1,3270, tetapi update pasar terbaru menunjukkan sterling melemah tipis ke area US$1,3233.
Data dari Office for National Statistics menunjukkan ekonomi Inggris tumbuh 0,6% secara kuartalan pada kuartal I 2026, sesuai dengan estimasi awal. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor jasa, termasuk aktivitas computer programming, perdagangan grosir, dan periklanan.
Namun, gambaran ekonomi Inggris belum sepenuhnya kuat. Secara tahunan, momentum pertumbuhan masih terbatas, sementara rumah tangga tetap menghadapi tekanan dari harga tinggi dan biaya hidup. Data ONS juga menunjukkan pendapatan riil rumah tangga masih tertekan, sehingga daya beli tangga masih tertekan, sehingga daya beli konsumen tetap menjadi perhatian utama pasar.
Pergerakan pound tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data GDP tersebut. Investor menilai angka pertumbuhan kuartal pertama sudah banyak diperhitungkan pasar, sementara perhatian lebih besar tertuju pada prospek kebijakan Bank of England, inflasi, dan dinamika politik Inggris.
Dari sisi politik, pasar juga mencermati pidato Andy Burnham yang disebut sebagai calon kuat perdana menteri Inggris berikutnya. Burnham menjanjikan perubahan politik melalui devolusi kekuasaan yang lebih besar ke wilayah regional, tetapi tetap menegaskan komitmen terhadap aturan fiskal. Sikap tersebut membantu menahan kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan fiskal yang terlalu longgar.
Dari AS, laporan Job Openings and Labour Turnover Survey atau JOLTS menunjukkan lowongan kerja bertahan di sekitar 7,6 juta pada Mei. Angka ini menunjukkan permintaan tenaga kerja masih cukup kuat, meskipun perekrutan belum sepenuhnya solid. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS belum cukup lemah untuk mendorong The Fed segera melonggarkan kebijakan.
Data lain menunjukkan kepercayaan konsumen Amerika Serikat membaik pada Juni, didorong oleh penurunan harga bensin setelah kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran membantu meredakan tekanan energi. Namun, persepsi terhadap pasar tenaga kerja masih melemah, menandakan konsumen tetap berhati-hati.
Di sisi bank sentral, Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan inflasi Inggris masih dapat naik ke sekitar 3,2% tahun ini. Bailey juga menekankan bahwa harga energi masih menjadi faktor penting setelah konflik Iran, meskipun penurunan harga minyak belakangan memberi ruang bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru mengubah kebijakan.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, memberi komentar bernada hawkish. Ia menilai inflasi Amerika Serikat masih terlalu tinggi dan The Fed dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika data konsumen tetap kuat. Pernyataan tersebut menjaga ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter AS masih berpotensi ketat.
Money market saat ini memperhitungkan sekitar 35 basis poin pengetatan The Fed hingga akhir 2026. Untuk pertemuan Juli, pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga. Namun, data tenaga kerja dan inflasi berikutnya akan menjadi penentu apakah peluang kenaikan suku bunga kembali membesar.
Secara keseluruhan, GBP/USD masih berada dalam tekanan tarik-menarik antara data Inggris yang cukup stabil dan dolar AS yang tetap mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga tinggi. Selama The Fed masih terdengar hawkish dan data tenaga kerja AS belum melemah signifikan, penguatan pound berpotensi tetap terbatas. (arl)
Sumber: Newsmaker.id