Hammack: The Fed Bisa Naikkan Suku Bunga Lagi
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan bank sentral AS masih dapat menaikkan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan penurunan yang cukup meyakinkan. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa The Fed belum sepenuhnya menutup ruang pengetatan kebijakan moneter pada tahun ini.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (30/6), Hammack mengatakan dirinya akan tetap berpikiran terbuka dalam setiap keputusan suku bunga The Fed. Namun, ia menegaskan bahwa jika inflasi terus bertahan di level tinggi dan kebijakan saat ini tidak cukup menahan tekanan harga, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi turun.
Hammack menilai inflasi Amerika Serikat masih terlalu tinggi, terutama inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi. Ia juga menekankan bahwa masalah inflasi tidak hanya berasal dari harga energi, tetapi sudah menyebar ke sektor lain, termasuk jasa inti.
Salah satu perhatian utama Hammack adalah tingginya inflasi jasa inti. Kenaikan harga di sektor jasa dinilai lebih sulit turun karena berkaitan dengan upah, permintaan domestik, dan struktur biaya perusahaan. Kondisi ini membuat The Fed perlu berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa tekanan inflasi sudah benar-benar mereda.
Hammack juga menyoroti investasi besar-besaran di sektor artificial intelligence atau AI. Menurutnya, belanja modal yang kuat untuk teknologi dan infrastruktur AI ikut menciptakan tekanan naik terhadap inflasi, terutama melalui kebutuhan energi, chip, data center, dan tenaga kerja berkeahlian tinggi.
Dari sisi ekonomi, Hammack menilai pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih berada di sekitar kondisi full employment, sementara pertumbuhan ekonomi terlihat kuat. Jika data konsumsi tetap solid, ia menilai kebijakan The Fed saat ini mungkin belum cukup restriktif untuk menurunkan inflasi ke target 2%.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Namun, para pejabat bank sentral masih memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun, seiring inflasi yang bertahan di atas target. Kondisi tersebut membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap komentar pejabat The Fed.
Dampaknya, dolar AS tetap mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Greenback bahkan menuju penguatan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun. Dolar yang lebih kuat dapat menekan harga emas karena membuat logam mulia lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Bagi pasar emas, komentar Hammack menjadi sentimen negatif karena kenaikan suku bunga akan meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi. Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung tertekan ketika yield naik dan ekspektasi kebijakan moneter semakin ketat.
Secara keseluruhan, pernyataan Hammack menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed masih sangat bergantung pada data. Jika inflasi inti dan jasa tetap tinggi, peluang kenaikan suku bunga dapat kembali membesar. Namun, jika data harga dan konsumsi mulai melemah, The Fed kemungkinan akan mempertahankan sikap hati-hati sebelum mengambil langkah berikutnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id