Aussie Menguat, RBA dan Data China Jadi Penopang
Dolar Australia menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (30/6), didukung oleh nada hawkish Reserve Bank of Australia dan membaiknya data ekonomi China. AUD/USD bergerak di sekitar 0,6915, mencerminkan penguatan terbatas di tengah pasar yang masih berhati-hati terhadap arah kebijakan The Fed.
Dukungan utama bagi Aussie datang dari risalah rapat RBA pada 16 Juni. Bank sentral Australia secara bulat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35%. Namun, RBA tetap membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi tidak turun secara berkelanjutan menuju target.
Dalam risalah tersebut, RBA menegaskan bahwa inflasi masih berada jauh di atas target dan kebijakan moneter perlu tetap restriktif. Bank sentral juga menyatakan akan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung full employment, termasuk menaikkan suku bunga lagi jika dibutuhkan.
Nada hawkish ini membantu menopang dolar Australia karena pasar menilai RBA belum siap mengubah arah kebijakan menjadi lebih longgar. Selama tekanan harga masih kuat dan permintaan domestik masih berlebih, peluang suku bunga Australia bertahan tinggi lebih lama tetap terbuka.
Sentimen dari China juga menjadi faktor positif bagi Aussie. PMI manufaktur resmi China naik ke 50,3 pada Juni dari 50,0 pada bulan sebelumnya, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 50,1. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi.
PMI non-manufaktur China juga membaik ke 50,2 dari 50,1, melampaui perkiraan yang sebelumnya mengarah ke kontraksi. Karena China merupakan mitra dagang terbesar Australia, membaiknya aktivitas manufaktur dan jasa China cenderung meningkatkan ekspektasi permintaan komoditas Australia.
Meski demikian, penguatan AUD/USD masih tertahan oleh dolar AS yang relatif stabil. Greenback sebelumnya melemah karena aksi ambil untung akhir kuartal, tetapi tetap mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan ketat.
Dari AS, Conference Board Consumer Confidence Index naik tipis ke 91,2 pada Juni dari revisi 90,6 pada Mei. Kenaikan ini menunjukkan sentimen rumah tangga sedikit membaik, terutama karena penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi pasar, sehingga belum cukup kuat untuk mendorong dolar naik agresif.
Pasar kini mencermati apakah ekonomi AS masih cukup kuat untuk membuat The Fed tetap berhati-hati. Jika data tenaga kerja dan inflasi AS kembali solid, dolar AS dapat kembali menguat dan membatasi kenaikan Aussie. Sebaliknya, jika data AS melemah, AUD/USD berpeluang melanjutkan pemulihan.
Secara teknikal, area 0,6900 menjadi level psikologis penting bagi AUD/USD. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan ke 0,6950 masih terbuka. Namun, jika dolar AS kembali menguat, pasangan ini berisiko turun kembali ke area 0,6870 hingga 0,6850.
Secara keseluruhan, pergerakan AUD/USD saat ini ditopang oleh kombinasi nada hawkish RBA dan data China yang lebih baik. Namun, arah berikutnya masih akan sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. (arl)
Sumber: Newsmaker.id