Emas Stabil di Tengah Dolar Kuat dan Lonjakan Harga Minyak
Harga emas cenderung stabil di awal sesi Asia hari Jumat (13/3) setelah melemah dalam dua sesi terakhir, ketika pelaku pasar menimbang penguatan dolar AS dan tingginya harga minyak di tengah perang Timur Tengah yang telah berlangsung hampir dua pekan. Bullion berada di sekitar US$5.080 per ons pada perdagangan awal, setelah turun lebih dari 2% dalam dua sesi sebelumnya.
Nada keras masih mendominasi konflik. Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, sama-sama mengambil sikap tegas pada hari ke-13 perang, yang secara efektif telah menghambat pelayaran melalui Selat Hormuz dan menciptakan gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak. Di saat yang sama, harga minyak melanjutkan kenaikan dari penutupan tertinggi sejak Agustus 2022, sementara indeks dolar AS naik 0,5% pada Kamis.
Bagi emas, lonjakan harga energi dan meningkatnya kekhawatiran inflasi telah memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya. Harapan pelonggaran juga tertekan setelah laporan terbaru klaim pengangguran AS menunjukkan permohonan baru tetap rendah, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup solid.
Tekanan tambahan datang dari pasar obligasi. US Treasury melemah pada Kamis, mendorong yield tenor pendek ke level tertinggi sejak Agustus. Pasar kini hampir tidak melihat peluang pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed pekan depan, dan hanya menilai sekitar 70% peluang pemangkasan terjadi tahun ini. Biaya pinjaman yang lebih tinggi umumnya menjadi hambatan bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Pada pukul 06:54 waktu Singapura, spot gold naik tipis 0,2% ke US$5.089,13 per ons. Perak naik 0,2% ke US$84,04, platinum menguat, sementara palladium melemah. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id