Pekan Bank Sentral Dimulai, Dolar Goyah Karena Iran
Dolar sedikit melemah pada hari Senin (27/4) disaat minyak menguat, setelah upaya melanjutkan pembicaraan damai perang Iran kembali tersendat dan pasar bersiap menghadapi rangkaian keputusan bank sentral pekan ini. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,1%, sementara mata uang pro-risk seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru memimpin penguatan di G10, bersama krone Norwegia, seiring harga energi bertahan tinggi di tengah kebuntuan diplomasi.
Gedung Putih menyatakan pejabat AS masih membahas proposal terbaru Iran, namun garis merah kesepakatan tetap dipertahankan. Ketika konflik belum menunjukkan jalan keluar, minyak yang elevated menjaga risiko inflasi dan skenario “adverse” untuk ekonomi global tetap terbuka jika ketegangan berlarut hingga Juni–Juli. Ini menjadi kanal utama yang menahan ruang pelemahan dolar sekaligus membatasi risk appetite lintas aset.
Di FX, EUR/USD relatif stabil di 1,1723 di tengah sinyal perusahaan zona euro memperkirakan kenaikan biaya input dan harga jual akibat perang, menambah kekhawatiran inflasi bagi ECB. GBP/USD naik tipis ke 1,3536, sementara USD/JPY bertahan di sekitar 159,40 menjelang rapat BOJ, yang diperkirakan menahan suku bunga namun dengan komunikasi lebih hawkish karena risiko depresiasi yen dan isu “tertinggal dari kurva”. Citigroup menilai USD/JPY berpotensi menembus 160 jika BOJ tidak cukup hawkish. AUD/USD naik 0,5% ke 0,7187, sementara USD/CAD turun 0,3% ke 1,3632 setelah Kanada mengumumkan rencana pembentukan sovereign wealth fund dengan modal awal C$25 miliar untuk pembiayaan proyek infrastruktur. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id