Emas Melemah Usai Core CPI AS Redam Harapan Dovish Fed
Harga emas kembali melemah setelah data inflasi inti Amerika Serikat atau Core CPI dirilis sesuai perkiraan pasar. Meski secara sekilas angka tersebut terlihat cukup jinak, pelaku pasar menilai data ini belum cukup lemah untuk mengubah ekspektasi kebijakan Federal Reserve secara signifikan. Akibatnya, emas kehilangan sebagian daya tariknya karena pasar belum melihat peluang pemangkasan suku bunga yang lebih agresif dalam waktu dekat.
Pada Februari 2026, Core CPI AS tercatat sebesar 2,5% secara tahunan dan 0,2% secara bulanan. Sementara itu, inflasi utama atau headline CPI berada di 2,4% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan. Data ini memperlihatkan bahwa tekanan inflasi inti memang tidak meningkat tajam, tetapi juga belum cukup rendah untuk memberi keyakinan bahwa inflasi telah benar-benar menuju target bank sentral.
Bagi pasar emas, reaksi negatif muncul karena fokus investor tidak hanya tertuju pada angka inflasi itu sendiri, tetapi juga pada dampaknya terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury. Ketika pasar menilai The Fed masih harus berhati-hati, yield obligasi cenderung tetap tinggi dan dolar bertahan kuat. Kombinasi tersebut menjadi tekanan bagi emas, karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil sehingga cenderung kurang menarik saat aset berbunga memberikan return lebih baik.
Di sisi lain, pasar juga masih memantau risiko inflasi dari kenaikan harga energi di tengah ketegangan geopolitik. Kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak dapat kembali mendorong tekanan inflasi membuat ruang penguatan emas menjadi terbatas, meski aset safe haven ini tetap didukung oleh ketidakpastian global. Untuk saat ini, arah emas masih sangat ditentukan oleh pergerakan dolar, yield, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap langkah suku bunga The Fed ke depan.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id