Emas Mundur dari $5.400—Tenang Dulu atau Cuma Ambil Untung?
Emas (XAU/USD) sempat melonjak dan menyentuh area $5.400 pada sesi Asia, tapi kemudian mundur seiring volatilitas pembukaan mereda. Meski begitu, emas masih naik lebih dari 1% hari ini dan tetap bertahan di atas $5.300, menandakan minat safe haven belum hilang.
Lonjakan awal dipicu eskalasi ketegangan Timur Tengah setelah serangan AS–Israel ke Iran yang mengguncang sentimen global. Kondisi risk-off seperti ini biasanya bikin investor buru-buru cari aset defensif, dan emas kembali jadi tujuan utama.
Namun setelah gap bullish di awal sesi, pembeli terlihat mulai ragu untuk mengejar harga lebih tinggi. Banyak pelaku pasar memilih ambil profit dulu sambil menunggu perkembangan berikutnya—jadi pergerakannya bukan berbalik bearish, lebih ke “napas dulu” setelah lonjakan cepat.
Di sisi lain, penurunan dolar AS yang moderat dari puncaknya ikut membantu menopang emas. Ditambah lagi, pasar masih memegang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, yang biasanya jadi angin segar buat aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Faktor energi juga tetap jadi sumber risiko: isu gangguan arus minyak dan “kemacetan” tanker di kawasan Teluk membuat pasar tetap waspada pada inflasi dan stabilitas ekonomi global. Selama headline soal jalur energi (termasuk Hormuz) belum tenang, permintaan safe haven berpotensi tetap bertahan.
Minggu ini, pelaku pasar juga mengincar data AS: mulai dari ISM Manufacturing (awal pekan), lalu rangkaian data tenaga kerja hingga NFP. Tapi tetap saja, arah emas kemungkinan masih sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik—data ekonomi jadi “pemicu tambahan”.
Inti Poin (5)
- Emas sempat sentuh area $5.400 lalu mundur, tapi masih +1% dan bertahan di atas $5.300.
- Eskalasi Timur Tengah memicu risk-off dan mengangkat demand safe haven.
- Pullback lebih karena profit taking dan wait-and-see, bukan sinyal bearish yang tegas.
- Dolar yang melemah moderat + ekspektasi rate cuts The Fed masih jadi penopang emas.
- Fokus pekan ini: ISM, data tenaga kerja (termasuk NFP), tapi headline geopolitik tetap penggerak utama.(asd)
Sumber : Newsmaker.id