Jelang Bursa China Tutup, Emas dan Perak Terkoreksi
Emas dan perak terkoreksi tipis setelah reli sebelumnya, ketika investor menilai dampak penutupan pasar China untuk libur Tahun Baru Imlek. Logam mulia sempat melemah hingga 0,8% karena aktivitas perdagangan China—yang dalam beberapa minggu terakhir jadi mesin utama pergerakan perak dan logam lain—akan absen lebih dari sepekan, sehingga menjadi “tes” apakah tren masih kuat tanpa dorongan volume dari sana.
Menurut BullionVault, dominasi China dalam arus fisik emas sudah terjadi lebih dari satu dekade, namun yang paling menggerakkan harga global belakangan ini justru ledakan spekulasi dan derivatif dari pelaku pasar China. Bursa Emas Shanghai dan Bursa Berjangka Shanghai dijadwalkan tutup mulai akhir Jumat hingga 24 Februari, membuat pasar global berpotensi lebih sensitif pada aliran order dari luar China.
Di perak, situasinya lebih “panas”: permintaan domestik China tinggi dan backlog pesanan membuat kontrak jangka pendek di bursa Shanghai sempat diperdagangkan pada premi besar dibanding kontrak tenor lebih panjang—sinyal pasokan ketat dan kebutuhan fisik yang agresif. Bursa juga mengubah aturan untuk membatasi pihak tertentu membawa kontrak perak lindung nilai hingga pengiriman, langkah yang dinilai dapat menahan arus keluar stok gudang di tengah pasokan yang ketat.
Fokus pasar kini beralih ke data AS, terutama rilis inflasi inti Jumat, karena jalur suku bunga The Fed tetap jadi variabel besar untuk logam mulia. Emas masih bertahan di atas $5.000/oz dan sudah memulihkan sekitar setengah dari kejatuhan tajam awal bulan, sementara sejumlah bank besar tetap bullish (didorong geopolitik, isu independensi Fed, dan pergeseran dari aset tradisional). Pada pukul 12:20 siang London, emas spot turun 0,4% ke $5.063,53/oz, sementara perak turun 1,8% ke $82,81/oz.(alg)
Sumber: Newsmaker.id