Bessent; Treasury Buka Opsi Buyback Jumbo
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah masih membuka peluang untuk memperbesar operasi buyback Treasury di atas US$4 miliar per penerbitan. Pernyataan ini mempertegas bahwa Washington siap menggunakan berbagai instrumen untuk meredam tekanan di pasar obligasi dan menjaga yield tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Bessent menilai kenaikan yield Treasury belakangan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Menurutnya, sebagian tekanan terjadi karena pasar terlalu bereaksi terhadap headline di tengah likuiditas perdagangan yang tipis. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan pasar sekaligus memberikan sinyal bahwa Treasury siap bertindak jika volatilitas meningkat.
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan setidaknya menggandakan ukuran buyback surat utang jangka panjang. Namun, dampak awal kebijakan tersebut mulai memudar, dengan obligasi tenor 30 tahun kehilangan sebagian kenaikannya dan yield 10 tahun serta 30 tahun kembali bergerak lebih tinggi.
Tekanan terhadap Treasury masih datang dari tiga faktor utama, yaitu defisit fiskal yang lebar, kekhawatiran inflasi akibat perang Iran, serta lonjakan kebutuhan pembiayaan korporasi untuk investasi kecerdasan buatan. Kenaikan yield juga semakin membebani biaya pembayaran utang pemerintah AS, yang kini telah menembus rekor sekitar US$40 triliun.
Bessent juga menyebut pemerintahan Trump akan segera mengumumkan peningkatan fokus terhadap konsolidasi fiskal. Pemerintah akan meninjau sisi pendapatan maupun pengeluaran dan melihat peluang penghematan hingga ratusan miliar dolar. Ia bahkan menilai ada kemungkinan defisit AS telah melewati titik puncaknya.
Analisis Newsmaker: pernyataan Bessent menunjukkan Treasury tidak hanya mengandalkan buyback, tetapi mulai membangun strategi yang lebih luas untuk menekan yield dan memperbaiki kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal AS. Jika buyback diperbesar dan konsolidasi fiskal benar-benar dijalankan, yield jangka panjang berpotensi kembali turun, yang dapat menekan dolar dan mendukung emas serta saham. Namun, selama defisit, inflasi, dan kebutuhan pembiayaan tetap tinggi, pasar obligasi masih berpotensi volatil. (arl)
Sumber : Newsmaker.id