Goldman dan Deutsche Bank Kompak Pangkas Target Emas
Deutsche Bank memangkas proyeksi harga emas hingga 22% setelah investor semakin berhati-hati terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam proyeksi terbarunya, emas diperkirakan berada di level US$4.300 per troy ounce pada kuartal III dan US$4.800 pada kuartal IV. Meski target tersebut masih menunjukkan peluang kenaikan dari harga saat ini yang berada di dekat US$4.100, pandangan Deutsche Bank kini jauh lebih hati-hati dibandingkan sebelumnya.
Perubahan proyeksi ini terjadi karena pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve belum akan melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat. Bahkan, setelah rapat terakhir The Fed, sejumlah pejabat bank sentral AS mulai menunjukkan dukungan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan komitmen untuk mengembalikan stabilitas harga, sehingga investor kembali memperhitungkan risiko suku bunga tinggi lebih lama.
Menurut analis Deutsche Bank Michael Hsueh, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dan data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup kuat menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Dalam skenario dasar Deutsche Bank, target kuartal IV di US$4.800 didasarkan pada asumsi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga. Namun, jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga tiga hingga empat kali, emas berisiko turun lebih dalam hingga mendekati US$3.800 per troy ounce.
Tekanan terhadap emas juga datang dari melemahnya permintaan investasi. Penjualan berlanjut dari ETF berbasis emas menunjukkan bahwa dukungan yang biasanya menopang logam mulia mulai berkurang. Di China, diskon harga emas domestik terhadap harga Comex juga mengindikasikan bahwa impor belum menjadi penopang kuat bagi pasar. Kondisi ini membuat emas kehilangan beberapa pilar pendukung utama di tengah kuatnya dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi.
Meski begitu, Deutsche Bank masih melihat satu faktor positif yang tetap kuat, yaitu permintaan dari bank sentral. Pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan masih berlanjut dalam waktu cukup lama karena banyak negara tetap mencari diversifikasi cadangan di tengah ketidakpastian global. Namun, untuk jangka pendek, pasar emas masih harus menghadapi tekanan dari dolar AS, sikap hawkish The Fed, dan menurunnya minat investor terhadap produk emas.
Harga emas spot sempat turun hingga sekitar US$4.090 per troy ounce pada Selasa, sementara silver ikut merosot tajam karena pergerakannya cenderung mengikuti emas dengan volatilitas lebih besar. Setelah sempat mencetak rekor di dekat US$5.600 pada akhir Januari, emas kini telah melemah lebih dari 5% sepanjang tahun berjalan. Artinya, meskipun prospek jangka panjang belum sepenuhnya hilang, pasar emas saat ini sedang memasuki fase koreksi dan penyesuaian ekspektasi yang cukup besar.(arl)
Sumber : Newsmaker.id