Dominasi Tiongkok Bikin Dunia Waspada akan Krisis Mineral Langka
Goldman Sachs memperingatkan bahwa dunia menghadapi risiko serius terhadap rantai pasokan mineral langka, terutama karena dominasi besar Tiongkok dalam penambangan dan pemurnian. Mineral seperti samarium, lutetium, dan terbium sangat penting bagi teknologi tinggi, mulai dari baterai, chip, kecerdasan buatan, hingga alat pertahanan. Namun, Tiongkok kini memperluas pembatasan ekspor, memperketat kontrol atas elemen penting ini, dan mempersulit akses global.
Tiongkok disebut menguasai sebagian besar rantai produksi, dari tambang hingga pembuatan magnet, yang menjadikannya pemain kunci dalam pasokan global. Negara-negara Barat sedang berusaha membangun rantai pasokan mandiri, namun tantangan besar menanti, mulai dari kelangkaan geologi, teknologi tinggi, hingga dampak lingkungan. Goldman mencatat bahwa mengembangkan tambang baru bisa memakan waktu hingga satu dekade, sementara membangun fasilitas pemurnian juga tidak mudah.
Selain itu, banyak bahan langka seperti cerium dan lanthanum diprediksi bisa jadi target pembatasan berikutnya. Perusahaan seperti Lynas dan Solvay memang bisa membantu mengurangi ketergantungan, namun skala produksi mereka masih jauh dari cukup untuk menggantikan peran Tiongkok secara penuh. Di sisi lain, produksi magnet di luar Tiongkok juga masih terkendala karena kebutuhan akan bahan mentah yang masih dikendalikan oleh Tiongkok.
Untuk investor, Goldman Sachs menyarankan saham-saham di sektor ini sebagai cara mengantisipasi potensi gangguan. Perusahaan seperti Iluka Resources, Lynas Rare Earths, dan MP Materials dianggap sebagai pemain utama yang bisa diuntungkan dari lonjakan permintaan. Tidak hanya mineral langka, Goldman juga mengingatkan bahwa komoditas lain seperti kobalt, minyak, dan gas juga semakin rentan terhadap gangguan akibat ketegangan geopolitik global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id